Sepenggal Kisah: Aku, Sammy, dan Tiffany

Hai hai~ Senang sekali ya akhirnya manusia paling nggak konsisten dalam dunia tulis menulis ini muncul lagi mengisi kekosongan blog nista ini. Anyway… judul di atas jangan diambil pusing ya hahaha.

Ada satu hal yang sedikit berbeda di sini. Kali ini saya tidak muncul sebagai Dini yang maniak K-Pop dan merindukan belaian hangat dari oppa, namun sebagai mahasiswa angkatan tua yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi. Ada yang senasib dengan saya? Cung!

Sebelumnya mau ngasih warning dulu. Postingan ini mengandung curhatan (btw, postingan saya kayaknya mengandung curhatan semua deh). Boleh kok mundur sebelum terlambat nge-scroll sampai bawah. Tapi kalau sudah terlanjur ya sudah, lumayan juga kan baca curhatan orang buat bahan gosip sama tukang sayur besok pagi.

Din, emangnya ada gitu yang minat buka blog elu?

 

Lha mbuh. Kali aja ada yang khilaf googling sesuatu sampe page 70 dan nemu blog gue.

*Tarik nafas*

*Hembuskan*

Prolog dulu aja kali ya, biar postingan ini nggak terkesan buru-buru banget. Padahal emang buru-buru sih soalnya saya nulisnya sambil ngantuk, pengennya sih cepet-cepet tidur, tapi saya sudah bertekad bahwa hari esok akan saya dedikasikan untuk skripsi tercinta, jadi kalau mau corat-coret blog mending dilakukan sekarang aja. Saya pikir ini keputusan yang benar sebelum saya tiba-tiba lupa cara berceloteh di blog.

Setiap mahasiswa, baik yang emang beneran niat kuliah ataupun yang hanya sekadar “cari kesibukan” pasti harus menjalani kerasnya kehidupan melalui seonggok tugas akhir bernama skripsi. Oke, saya akan tulis gede-gede biar yang fobia dengan kata tersebut jejeritan horor. SKRIPSI.

Gimana ya… sebenernya saya juga nggak nyangka bakal ngomongin ini di blog. Tapi mungkin karena faktor ‘S’ (Stresssssss) dan nggak tahu lagi mau curhat sama siapa, akhirnya saya putuskan untuk memencet tombol Ctrl+N di keyboard laptop saya ketika mata saya sudah sepet melihat font Times New Roman ukuran 12 dengan spasi 2. Tahu lah ya apa maksudnya.

Sebagai salah satu mahasiswa yang sedang mengalami goncangan batin karena skripsi, saya merasa harus angkat bicara melalui jari-jari saya, semata-mata untuk mencari pencerahan atas kegundahan hati ini.

source: memegenerator.net

source: memegenerator.net

Sebelumnya saya mau cerita sedikit perihal perkembangan buah hati saya tercinta yang tetap berusaha saya sayang-sayang walaupun dia nakal *elus-elus skripsi pake amplas*.

Nah, di sini saya mau bilang kalau saya menyekip bagian yang agak penting, yaitu ketika saya mengetahui nama dosen yang akan menemani hari-hari saya selama masa pengerjaan skripsi. Kenapa bagian tersebut saya skip? Yakin masih mau nanya?

Saya itu kalau udah bahas sesuatu di tulisan suka susah dikontrol. Nanti kalau saya bahas dosen, tahu kan risikonya apa. Nggak etis juga ngomongin orang lain, apalagi orang yang lebih tua dan terhormat di blog saya yang mirip tempat jualan kacang. Jadi demi kemaslahatan umat, saya nggak akan membicarakan hal yang satu itu. Tapi intinya, saya cinta kok dengan dosen pembimbing saya ^^

Lanjut.

Jadi ceritanya saya sudah memiliki topik yang akan saya skripsikan, yang akan saya preteli sampe ke akar-akarnya walaupun saya nggak yakin bahwa saya bener-bener mempreteli topik itu. Sampai di sini saya masih semangat-semangatnya lah ya. Ngerjain proposal bab 1, oke. Nggak ada kendala yang berarti. Eh iya, saya sempet ganti judul satu kali sih karena sesuatu hal. Tapi itu biasa sih ya, bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Baru juga satu kali.

Ketika mengerjakan bab 2, saya pun masih oke-oke saja. Masih semangat. Tekad masih kuat dan tidak mudah terdistraksi. Kalau sudah ngadep laptop, khusuk banget deh.

Ketika sudah masuk bab 3, segalanya terasa berbeda. FYI aja, walaupun bagi beberapa orang proses melangkahnya skripsi saya itu lumayan cepet, tapi saya termasuk kaum yang tertinggal di kampus. Ketika saya masuk proposal bab 1 dan 2 sih masih woles, soalnya hampir semua mahasiswa ngerjainnya bebarengan. Begitu saya masuk pada bab 3, lho kok ini tiba-tiba udah pada seminar proposal? Lho, yang bimbingannya dosen ini juga seminar? Bimbingannya dosen itu juga??

source: sebuahoasis.blogspot.com

source: sebuahoasis.blogspot.com

Mulai dari situlah saya terdistraksi. Orang-orang sudah menenteng proposalnya yang tebal di dalam map warna-warni untuk diajukan ke dosen pembimbing, sementara saya menatap nanar pada proposal saya yang masih setengah jalan.

Kemudian saya mikir. “Ahelah, Din. Baru juga ditinggal seminar proposal. Nanti kalo ditinggal wisuda apa kabar lo?”

Saya tersenyum miris.

Lalu saya mikir lagi. Iya juga ya. Ah, berarti saya nggak boleh terbawa suasana. Saya harus menghadapi apa yang memang menjadi jalan saya. Proposal ini adalah tanggung jawab saya. Saya harus menyelesaikannya jika saya memang benar-benar orang yang bertanggung jawab.

Singkat cerita, proposal saya sudah jadi, media sudah jadi, dan siap berangkat seminar. Dalam hati saya berteriak kegirangan, “FINALLY!”. Ya, sebahagia itu rasanya ketika saya diizinkan untuk menyeminarkan proposal saya. Sesaat saya lupa dengan kenyataan bahwa teman-teman saya sudah melangkah jauh menuju jenjang selanjutnya, yaitu penelitian, bahkan ada yang sudah mengolah data. Saat itulah saya menyadari bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana mendapat kepercayaan dari dosen untuk membongkar isi proposal sekaligus aib saya.

Pada awal bulan April, saya baru mulai penelitian. Hahaha… tiba-tiba males kalau harus menceritakan tetekbengek penelitian, jadi bagian ini saya skip aja ya ^^ (Din plis, dari tadi nyekap-nyekip-nyekap-nyekip)

Saya selesai peneletian pada akhir bulan April, dan saya break sejenak sebelum mulai mengolah data. Break-nya cuma beberapa hari sih, karena setelah itu harus menghadap dosen tercinta untuk menemukan arah ke jalan yang benar. Tentunya saya nggak mungkin bertemu beliau dengan tangan kosong, dong! Saya menyiapkan seperangkat alat sholat hasil penelitian dan pengolahan data yang saya kerjakan mati-matian dalam dua hari.

Kok dua hari?

Sebenarnya jatah waktu untuk mengerjakan adalah seminggu, tapi dalam tujuh hari itu, hanya dua hari yang saya gunakan secara produktif.

Nah, sebenarnya di sinilah inti dari curhatan saya.

Pernah nggak sih mengalami perasaan insecure tiap lihat laptop? Pernah nggak sih muncul perasaan takut untuk buka laptop apapun tujuannya?

Saya sih YES.

source: imamnoviwidianto.com

source: imamnoviwidianto.com

Entah dari mana awalnya, pada suatu hari tiba-tiba saya merasa ketakutan. Saya mau nyebutin, tapi mungkin ini terdengar cukup aneh. Saya takut mengerjakan skripsi.

Rasanya laptop tuh terlihat seperti benda kutukan yang kalau dibuka akan menghancurkan kehidupan umat manusia. Oke, saya lebay. Tapi saya nggak tahu lagi bagaimana harus menggambarkan perasaan itu, yang jelas, saya pernah nggak buka laptop selama beberapa saat (nggak sampe dua hari sih hehehe) dan itu rekor buat saya. Selama ini kan aktivitas saya sebagian besar dilakukan bersama Sammy—laptop saya tercinta— sampai-sampai saya menyebut Sammy sebagai separuh jiwa saya. Kalau nggak ada Sammy, berarti ‘separuh jiwaku pergi’. See? Sedekat itulah hubungan saya dengan laptop saya. Makanya aneh kan kalau dua hari Sammy nggak saya belai, nggak saya cium-cium, dan nggak saya bisikin kata-kata mesra?

Tapi memang itulah yang terjadi, kisanak.

Perasaan semacam itu masih muncul sampai saat ini, bahkan ketika saya mengetik tulisan ini. Perasaan nggak nyaman itu muncul ketika saya melihat folder skripsi saya. Walaupun niat awal buka laptop memang untuk mengerjakan skripsi, tapi perasaan takut itu tetap ada. Mungkin kalau saya nggak mau lulus dan nggak butuh gelar, folder tersebut sudah saya musnahkan dari kapan hari. Tapi saya mah nggak gitu orangnya. Saya pengen lulus dan pengen dapet gelar.

Akhir-akhir ini saya juga sering mengeluhkan sifat pemalas saya. Kok saya berubah, ya? Saya kok nggak serajin dahulu kala, ya? Sejak kapan saya menjadi procrastinator begini? Apakah ini memang penyakit semua orang yang sedang berurusan dengan skripsi? Apakah karena faktor ini, faktor itu, atau faktor blablabla?

Iya, saya sadar diri kalau saya berubah menjadi pemalas dan seharusnya saya memperbaiki itu. Tapi alih-alih memperbaiki, saya justru sibuk mencari pembenaran atas sifat pemalas saya. Saya berusaha ngertiin diri saya sendiri, seburuk apapun sifat yang nempel dalam diri saya, dan itu buruk sekali, kawan-kawan. Plis jangan dicontoh. Saya juga sedang berusaha mengubah pola pikir saya dan pola hidup saya kalau perlu. Saya berusaha nggak bangun kesiangan lagi, minum air putih banyak-banyak, olahraga (yang ini masih beraaat untuk dilakukan), berusaha legowo dan nggak emosian, mendekatkan diri pada Tuhan (ini juga belum maksimal, tapi saya berusaha) dan usaha-usaha lainnya yang sekiranya dapat mencerahkan otak saya dari belenggu negatif yang melingkupinya. Semuanya memang tidak mudah dan butuh proses, tapi saya yakin usaha tidak akan mengkhianati.

*Deep sigh*

Sebenernya bikin tulisan kayak gini bukan mau membuka aib atau apa sih yaa (well, tanpa tulisan ini pun sudah banyak yang tahu aib saya HUAHAHA), tapi lebih untuk menciptakan motivasi dalam diri saya. Saya kan suka nggak mempan gitu kalau dikasih wejangan sama motivator. Kalaupun mempan, paling hanya sebentar dan setelah itu hilang entah ke mana. Lagipula menurut saya, sementereng apapun kalimat yang diusung oleh para motivator, kalau kita nggak memiliki motivasi dari dalam hati ya sama aja bohong. Duh, seputar motivasi kita bahas (kita?) lain kali saja ya, kalau sempet. Kalau nggak sibuk. Kalau nggak takut buka laptop. Ms. Word kan sekarang menjadi sesuatu yang sakral gitu buat saya. Nggak boleh dibuka sembarangan, nanti akibatnya kayak gini. Bukannya nyekripsi malah curhat.

Kembali ke topik.

source: memegenerator.net

source: memegenerator.net

Saya masih berusaha mencari jawaban. Ya, jawaban dari pertanyaan yang tadi. Kenapa sih kok saya jadi males gini? Di sini saya menyoroti beberapa alternatif jawaban, yaitu sebagai berikut.

  • Pada dasarnya malas merupakan sifat bawaan

Nope, saya nggak akan mengakui hal yang satu ini. Bukannya saya gengsi atau songong atau tinggi hati, tapi saya memang tipe orang yang nggak males kalo untuk urusan tugas, yah walaupn nggak terlalu rajin juga sih. Apalagi zaman-zaman jadi mahasiswa baru dulu. Beuuuh baru dikasih tugas dosen, pulang kuliah langsung tancap ngerjain. Kebiasaan itu memang agak pudar sih ketika menginjak semester-semester berikutnya, tapi bukan berarti saya jadi pemalas banget dan mengabaikan tugas! Big big no! Saya seringnya nggak bisa tidur nyenyak kalau tugas belum selesai, dan itu nyiksa banget. Jadi sepertinya this answer is not the one.

  • Banyaknya distraksi yang menghampiri

Jawaban ini agak masuk akal sih sebenernya, mengingat hobi saya adalah hal yang cukup mendistraksi. Bayangkan, hobi kok fangirlingan nonton drama koreya dan reality show koreya. Pantesan gampang ilang fokus!

Tapi bagi saya, jawaban ini sedikit memberikan sumbangan untuk rasa males saya. Iya sih, kadang-kadang hasrat pengen fangirling itu muncul. Tapi saya nggak se-freak itu sampai hidup saya sepenuhnya buat fangirling. Nah, kalau distraksi yang dimaksud adalah internet, saya setuju. Itu adalah distraksi terbesar dalam hidup saya. I can’t live without it. Tentunya saya sudah mengambil langkah pencegahan dong untuk yang satu ini, yaitu dengan mematikan koneksi internet dan menjauhkan ponsel ketika sedang fokus nyekripsi. Berhasil sih, tapi tetap tidak menghilangkan perasaan cemas dan was-was yang menyelimuti hati.

  • Ada perasaan ‘aku mah apa atuh’ ketika melihat kesuksesan orang lain

Ini juga penyakit, kisanak. Penyakit yang harus dibuang jauh-jauh! Seperti yang saya curhatkan di atas, ketika saya ditinggal seminar proposal aja galaunya minta ampun. Nah, baru-baru ini lagi ada tren sidang pendadaran skripsi di kampus saya. Saya mah jangan ditanya lagi, pengen banget ikutan tren yang satu itu. Masa’ sehari bisa ada puluhan orang yang sidang pendadaran di jurusan saya? Aku kudu piye? 😐

Saat itulah mahasiswa yang senasib dengan saya diuji keimanannya. Ikut seneng kok kalau ada temen yang sudah selesai skripsinya, Alhamdulillah sudah dinyatakan lulus, tapi kadang muncul perasaan ‘Aku mah apa atuh, bimbingan aja baru sampe bab berapa. Dibandingkan kalian, aku hanyalah butiran berlian 300 karat yang nempel di mahkota Miss Universe.’

Perasaan semacam itu bisa jadi motivasi, tapi bisa juga jadi bumerang. Tinggal gimana aja sih menyikapinya. Tapi kalau buat saya, sedikit jadi motivasi dan sedikit jadi bumerang. Termotivasi untuk mengerjakan skripsi, tapi setelah itu pundung lagi karena membayangkan teman-teman yang udah nggak punya “tanggungan”. Huhuhu…

  • Negative thinking

Kita sebagai manusia yang memiliki sisi baik dan buruk memang seringkali kalah dengan pikiran negatif kita sendiri. Cara kita memandang sesuatu sedikit banyak dipengaruhi oleh suasana hati kita saat itu. Bukan tidak mungkin ketika saya melihat segerombolan anak SMA di bus misalnya, saya akan sewot dan mikir, “Situ sih enak, sekolah tinggal pulang-pergi. Nggak tahu sih rasanya pusing ngerjain skripsi!”. Hahaha duh rempong banget kan saya, padahal anak SMA tersebut nggak salah apa-apa sama saya. Melalui pikiran-pikiran negatif itu, suasana hati saya otomatis tambah jelek dan… mood buat nyekripsi bubar jalan! Jadi menurut saya, poin ini juga memberikan sumbangan faktor X terhadap penyakit malas saya.

  • Overthinking

Yak, ini dia raja dari segala raja. Sepertinya overthinking sedang tren ya di bumi ini. Apa-apa overthinking, dikit-dikit overthinking. Saya juga salah satu orang yang mengikuti tren itu sih hahaha. Sebenernya mah ogah gileee ikut-ikutan kayak gitu, tapi apa daya keadaan memaksa. Apalagi saya orangnya emang gampang mikir. Kalau ada masalah, biasanya saya mikirnya amit-amit ruwetnya sampe labirin aja kalah ruwet. Kadang overthinking ada baiknya juga sih, kalo isi pemikiran kita itu mengandung solusi dari masalah yang kita pikirkan. Lah kalo udah susah-susah mikir jero tapi nggak ada solusi permasalahannya, jadinya zero dong!

Nah, kamu sendiri gimana, Din?

Biasanya otak saya rewel kalau menjelang tidur. Rebahan di kasur, check. Pake selimut, check. Pasang headset, check. Peluk boneka, check. Tapi kok pikiran masih ke mana-mana, ya? Masih bercabang-cabang nggak ada ujungnya. Lari-lari nggak jelas kayak jodoh saya *eh*.

Banyak yang saya pikirin, dan jujur, itu menyiksa. Saya jadi susah tidur. Pernah saya nggak tidur semaleman cuma gara-gara mikir doang. Kalau saya mikirin cara bikin alat buat ngupil di tempat umum tanpa ketahuan sih nggak masalah ya, tapi ini saya mikirin hal-hal yang seharusnya nggak perlu dipikirin seserius itu. Cukup dijalani dan dihadapi saja, maka semua orang akan senang. But I can’t help it. Pikiran-pikiran itu seolah menghantui saya dan mengikuti ke manapun saya melangkah.

source: simplelifestrategies.com

source: simplelifestrategies.com

Jadi, apakah ini jawaban yang saya cari?

Ya. Poin ini termasuk jawaban yang saya cari beserta beberapa poin lainnya. Nah, jawabannya ketemu, tapi sampai di sini saya harus mencari jawaban atas pertanyaan baru lagi.

“Bagaimana cara mengatasi kebiasaan overthinking dengan baik dan benar tanpa menimbulkan efek samping?”

Hah… lemme google it first.

Ah… leganya abis curhat.

Oya, dan satu lagi. Kalo saya baca di beberapa artikel sih seseorang yang dipaksa fokus hanya pada satu hal memang rentan terpecah fokusnya, terlebih skripsi. Bayangin, saat ini saya cuma harus fokus pada skripsi. Waktu luang saya banyak dan kalau dipikir secara sederhana, harusnya gampang dong kalo cuma ngerjain skripsi doang dengan waktu yang melimpah ruah itu. Tapi kenyataan berbading terbalik dengan pemikiran manusia. Nyatanya, adaaa aja yang bikin rasa malas itu ada, salah satunya ya ini nih, lebih nyaman mengerjakan hal lain di luar prioritas. Nulis di blog, misalnya. Kemarin-kemarin ke mane aje mpok? Kok blognya baru diisi ketika sedang menjalani hubungan it’s complicated dengan skripsi? Hahaha. Terkadang melakukan hal lain memang lebih menyenangkan. Bahkan saya pernah milih bantuin ibu bikin pesenan snack sesiangan dan semaleman instead of nyekripsi. Anak yang baik kan saya? LOL XD

Oke. Cukup sekian. Mohon maaf apabila ada salah-salah kata. Saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun dalam tulisan ini karena ini murni curahan isi hati dan saya sudah berusaha untuk menyaring kata demi kata biar nggak frontal-frontal amat, tapi maaf kalo jatohnya tetep frontal (?).

Salam hangat dari saya, Sammy (laptop saya), dan Tiffany (skripsi saya) *akhirnya terjawab kan korelasi antara saya, Sammy, dan Tiffany hahaha*

 Syupeodinie –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s