KKL (Kadang-kadang Lebay): Hasil Pertapaan Gagal Seorang Dini

Halo sist n bro! (?)

Saya datang kembali menghiasi malam Anda :3

Jadi gini. Sebenernya lagi pengen banget nge-blog, pengen banget nulis, tapi sepertinya otak saya sedang melancarkan aksi ngambeknya. Ya, memang betul bahwa inspirasi adalah suatu hal yang makin menjauh kalo kita ingin mendekatinya. Yah, setidaknya itu berlaku pada saya. Oleh karena itu, karena tidak ingin tempat ini jadi sarang laba-laba, kecoa, kuskus, dan anoa, alangkah baiknya kalo saya menggoreskan sesuatu di sini. Tunggu sebentar, saya akan jelaskan dulu apa maksud postingan kali ini.

November kemarin, saya menunaikan salah satu tugas mulia dalam perkuliahan, yaitu KKL. Nggak perlu dijelasin singkatan dan tetek-bengeknya deh ya. Singkat cerita, KKL yang notabene termasuk dalam jajaran mata kuliah walaupun bobotnya hanya NOL SKS ini mencakup beberapa tugas, salah satunya adalah tugas dari salah satu mata kuliah yang memaksa untuk dikait-kaitkan dengan KKL yaitu berupa membuat puisi. Hah? Kurang jelas? Baiklah. Jadi saya mendapat tugas MEMBUAT PUISI, dan puisinya tidak hanya satu-dua, tapi lima belas. Iya, LIMA BELAS.

Gimana ceritanya Din kok bisa sampe lima belas biji? Apa dosennya segitu ngefansnya dengan Super Junior sampe-sampe mengedepankan rumus paten 13+2=1?

Begini. Di dalam jadwal tertera dengan jelas bahwa KKL berlangsung selama kurang lebih lima hari. Saya (atau kami) ditugaskan untuk membuat tiga puisi dalam satu hari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Gewla, bahkan jadwal minum obat yang tiga kali sehari aja sekarang udah jarang. Makan pun sehari kadang nggak sampe tiga kali. Udah gitu, puisinya harus diberi waktu dan lokasi penulisan (walaupun saya di sini tidak mencantumkan lokasi). Tema puisinya bebas sesuai suasana hati saat itu. Jadi kalo misalnya saat itu lagi kebelet pup, ya udah tulis aja. Kan terserah, bebas.

Mumet nggak sih, Din?

MENURUT NGANA???

Ya pikir aja gimana rasanya mikir dan nulis di dalam bus yang bergoyang-goyang sepanjang jalan (eh sumpah ya Pak Sopir kece banget ngemudiinnya). Secara hidup saya selama lima hari itu kebanyakan dihabiskan di dalam bus, alhasil satu-satunya tempat mikir ya di sana. Ogah banget kan kalo nyempetin bikin puisi di kamar hotel misalnya, kan mendingan tidur :3

Akhirnya dengan berbekal buku catatan, pulpen, dan ponsel, saya pun mulai memikirkan kata-kata terpuitis dan ter-njelehi yang ada di otak saya. Deretan kalimat demi kalimat wagu mulai bertebaran, tergores di buku catatan dan notes ponsel saya. Mbuh. Pokoknya waktu itu sekenanya saja, yang penting selesai, karena saat itu yang ada di kepala saya hanyalah bagaimana caranya supaya saya tidak lagi direpotkan oleh tugas tersebut. Tapi lama-lama kok saya justru menghayati puisi yang saya tulis, ya? Walaupun diksinya random, tapi kok rasanya saya terlalu terhanyut oleh apa yang saya alami dan rasakan, ya? Saya kenapa? Saya siapa? Saya di manaaa?

Ah, sudahlah. Kenapa pengantarnya jadi kepanjangan gini? Padahal jelas-jelas bukan di sini intinya -_-

Yak, inilah dari hasil bertapa saya yang gagal. Semoga tidak ngilu melihat tatanan kalimatnya yang saya akui memang random. Selamat menikmati!

 ***

Setapak Langkah Kecil

Satu… dua

Ada langkah, namun tertatih

Tiga… empat

Suara tapak itu berdengung di telinga

Lima… enam

Ayunan yang samar, kini terdengar nyata

Hanyut, terenggut oleh kesunyian pagi

Tujuh… delapan

Langkah kian terpatri, pasti

Menuju persinggahan hati

(19 November 2013, 07.08 WIB)

Sama

Mendera bayangmu dan mengikutinya

Sama sekali bukan hal baru

Bukan pula sekelebat hawa asing

Ini nyata dan terulang

Kamu lagi, kalian lagi

Lekuk yang sama, gumpalan yang serupa

Cahaya yang berpendar akrab

Seakan mengabaikan batas yang mengungkungnya

Laju itu, terpaan angin itu, mereka mirip…

Tidak, mereka bahkan sama persis

Memori itu kembali menghantam ingatanku

Bertubi-tubi tanpa ampun

(19 November 2013, 13.55 WIB)

Penantian Nyata

Kau berdiri di sana

Ya, di sana

Bagai lentera, berpendar di tengah gulita

Selangkah lagi, ya, selangkah lagi

Gulita ini akan lenyap pekatnya

Lentera itu tak sekadar guratan ilusi

Sesaat lagi, ya, sesaat lagi

Pena ini mengguratkan sebongkah imaji yang nyata

Menari-nari, mengiringi goresan deskripsi

Atas panorama tanpa cela

Tunggu saja, sejenak saja…

Aku akan segera berpijak di sana

(19 November 2013, 18.49 WIB)

Pelajaran dari Sebongkah Batu

Gemuruhnya mulai tampak

Gelombang itu…

Percikannya menyulut kekaguman jiwa

Ombak itu…

Selaras, sejiwa, merapalkan bunyi-bunyian apik

Gemericik liar, membelah nestapa langit kelam

Kokohnya batu yang teguh menantang

Berdiri tangkas di sela gelombang

Hanya berdiri saja, di sana

Tiada kata terombang-ambing

Keteguhan membuatnya setia pada tempatnya berpijak

(20 November 2013, 08.57 WITA)

Katanya

Katanya kau pandai berkata-kata

Aku percaya

Katanya kau gemar bercengkerama

Aku masih percaya

Katanya kau bisa mengobati gelisahnya jiwa

Lagi-lagi aku percaya

Katanya, katanya dan katanya

Katanya, aku tidak akan percaya dengan setangkup kalimatmu

Di sana, yang berhiaskan sepinggan dusta

Kau bisa mengendalikan perasaanku, apapun, segalanya

Dan aku memang tidak percaya

(20 November 2013, 12.27 WITA)

Kamu dan Hujan

Kamu sama saja dengan hujan

Datang tiba-tiba, hilang dengan sendirinya

Kamu dan hujan, kalian sama

Membasahi dengan semena-mena

Sama saja, antara kamu dan hujan

Terlihat kejam dan menghujam

Namun itu adalah rasa syukur yang sebenar-benarnya

(20 November 2013, 17.12 WITA)

Irama Pagi

Derap-derap langkah terdengar

Ketukan alat pijak memecah keheningan

Sayup-sayup berdengung, suara itu

Diiringi derak tetes embun wangi

‘Bangun,’ katanya

Sepasang mata terkatup, kelopaknya tanggap

‘Bangun,’ katanya lagi

Suara yang padu dengan aroma pagi

Menggema syahdu, menyusuri pekatnya lorong demi lorong

Lalu langkah itu kian redam

Hingga kelopak tipis itu merenggang

(21 November 2013, 06.33 WITA)

Diam dan Rasakan

Deburan ombak kembali menyapu jajaran pasir yang bergeming

Pasir itu diam saja

Ia tak menggubris sapaan lembut ombak

Pasir memang pendiam

Kawanan butirannya bahkan tak kuasa mengedip

Parasnya menengadah

Tatapannya hanya tertuju pada kumulus yang saling beradu

Menyaksikan pergumulan kapas-kapas hias dengan senyum samar

Ah, tidak, bahkan senyuman itu tak terlihat

Bukan, bukan karena ia ingin menyembunyikannya

Tapi karena awan tak ingin melihat senyum pasir tersungging pada yang lainnya

(21 November 2013, 13.15 WITA)

Awan, Pasir dan Ombak

Ombak yang berbeda, pasir yang berbeda, namun langit yang sama

Pijakan yang berbeda, cerita yang berbeda, namun di bawah naungan yang sama

Mengapa?

Mengapa pasir dan awan mengungkung keakraban mereka rapat-rapat?

Seulas senyum dilontar dalam diam

Mengapa?

Kesalkah awan melihat ombak yang bisa membelai pasir kapan saja?

Risaukah mereka pada jarak vertikal yang membentang?

Pilukah awan ketika menyadari bahwa ia tak bisa menjatuhkan dirinya untuk menyapa pasir?

Satu cerita, sejuta alasan

Awan selalu menatap pasir manapun dari jarak pandang yang mustahil

Menaburkan kasih sayang, menjaga apa yang sulit diraihnya

(21 November 2013, 18.25 WITA)

 

Gulir Perpisahan

Samar-samar irama khas pagi terdengar lagi

Tapak sepatu, kecipak air, riuh-rendah kesibukan

‘Oh ini sudah pagi,’ batinku

Diam-diam ada himpitan serpih kelu

Tatapan sendu kulayangkan ke segala penjuru

Tanah Dewata yang telah empat hari kupijak

Langit Dewata yang sejenak menaungiku

Udara Dewata yang telah kuhirup dalam-dalam

Dewata, sesaat lagi akan kutinggalkan

Memutar balik tubuhku bersama gulir roda yang membawaku

Dewata, sesaat lagi akan kurindukan

Betapa waktu berlari sangat kencang, seperti kilatan cahaya anggun di langit Dewata

Aku yang bisa merasakannya

Semai sukacita di Pulau Dewata

(22 November 2013, 06.17 WITA)

Akhir

Persinggahan ini sekaligus menjadi akhirku

Waktu sangat cepat bergulir, bukan?

Seolah terombang-ambing oleh beberapa pasang tangan yang menarikku

Aku limbung, tak tahu harus bagaimana

Terlalu banyak hal yang terlewatkan

Sesal memang tak ada guna

Mengukir sejuta kenangan masih dirasa kurang

Namun, kegundahan bisa lebur dengan satu kenangan manis

(22 November 2013, 10.27 WITA)

Terlewati

Injakan pertama di tanahku

Hati seakan turut berseru bahwa aku telah kembali

Alam mendengar bahwa roda-roda itu menyudahi gulirnya

Kepala-kepala menengok ke belakang

‘Jadi itu hari-hari indah yang telah kita lalui?’

Sekarang menghadap lagi ke depan

Di sana, hal-hal baru telah menanti untuk dijamah

(22 November 2013, 14.12 WIB)

Kembali

Mata terbuka dengan hamparan kejutan

Kupikir ini hanya beberapa keping mimpiku yang belum tersusun

Kukerjapkan mata, bayangan yang mengabur itu kini jelas adanya

Seulas senyum tersungging lega

Dentuman-dentuman familiar hadir tertangkap telinga

Lelah ini nyaris tak berarti

Ketika tanah ini berhasil kupijak lagi

(23 November 2013, 08.26 WIB)

Roda

Gulir roda, lagi-lagi gulir roda

Jika ditanya apakah aku bosan, maka jawabannya adalah tidak

Hidup memang seperti roda

Terus bergulir menerobos cakrawala

Menembus angin dingin yang menerpa

Sengatan matahari pun diacuhkannya

Hidup memang seperti roda

Terus bergulir tanpa peduli helaan peristiwa

Yang penting berjalan saja

(23 November 2013, 12.23 WIB)

Sepercik Petuah

Langkah yang didera setiap hari

Setiap incinya bukannya tak berarti

Kiri, kanan, depan, belakang

Arah tak melulu menjadi pedoman

Pedoman tak melulu tentang arah

Dekap pedoman dalam diri

Ia yang sering berbisik kecil, hati

(23 November 2013, 16.04 WIB)

– Syupeodinie –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s