Our Friendship: Kami Datang, Kami Menang, Kami Menggelinjang

Image

Tiga kepala, tiga wajah, tiga kepribadian. Tiga perbedaan yang melebur menjadi satu, menjadi sebuah harmoni yang selaras.

***

Ruangan itu sepi. Gelap. Seram. Kelam.

Ruangan itu senyap tanpa ada satupun bunyi-bunyian di dalamnya hingga seseorang membuka pintu dan menimbulkan suara derit.

Kreeet.

Longokan kepala yang mengintip tampak samar-samar berkat seberkas cahaya yang menyusup melalui celah sempit dari balik pintu yang dibukanya. Suasana hening kembali menyergap, membuat gadis berkerudung itu mengelus tengkuknya dengan was-was. Ia hanya berdiri kaku di sana dengan segala ketidakpastian tanpa sepatah katapun.

Satu detik.

Dua detik.

Sepuluh detik.

Satu menit berlalu.

Satu abad kemudian…

SURPRISE! KEJUTAN!!!”

Sontak gadis itu hampir melompat di tempatnya berdiri saking terkejutnya. Ekspresi wajahnya seketika berubah saat melihat dua gadis lain yang sangat dikenalnya menyalakan lampu dan memasang wajah terkonyol yang pernah ada.

“HEY KALIAAAAAN! GUE JUGA TAHU KALO SURPRISE ITU ARTINYA KEJUTAN! NGGAK USAH ALAY NAPA?!”

Hening.

“…”

“Maaf… kita emang bisanya cuma kayak gini kok…”

***

Pssstt~ itu hanya prolog nggak jelas, jangan diambil poecinx. Tentu saja kejadian di atas hanyalah hasil pemikiran iseng belaka, mengingat… hey, mana mungkin ada orang yang rela berdiri di depan pintu selama satu abad penuh? Emangnya mau nyaingin Nyonya Meneer yang berdiri sejak 1918? Pikir-pikir juga kali.

Oke, mari kita buka saja tulisan nggak jelas kali ini dengan bacaan Basmalah.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebelumnya saya sebagai moderator akan memperkenalkan anggota kelompok kami. Tapi sebelumnya mohon maaf, saya kira kita sedang tidak berada dalam suasana perkuliahan, jadi lupakan formalitas dan tetekbengeknya, nanti dikira sok intelek.

Perkenalkan, kami adalah tiga orang dengan tiga isi kepala dan isi hati yang berbeda, namun isi perut kurang lebih sama. Orang-orang biasa melihat kami sebagai trio yang tak terpisahkan, selalu bersama, dan seia sekata. Boleh lah apabila ada yang ngebet ingin menyebut kami sebagai TaeTiSeo-nya Indonesia, KRY-nya Semarang, atau mentok-mentoknya Trio Macan PGSD. Abaikan opsi terakhir karena kami sama sekali tidak memiliki imej sebagai mbak-mbak manis manja yang hobi kibas-kibas rambut buat nyabetin orang lewat.

Sebenarnya ingin mengekspos secara gamblang-gamblangan, tapi untuk sementara sebut saja kami dengan nama-nama ini: Asep, Dadang, Usro. Saya sebagai Asep, sementara dua oknum lain mengambil sisanya.

Din, kok namanya gitu banget?

Mau tahu sejarahnya?

Nama Asep-Dadang-Usro diambil dari nama Indonesia bias kami di SUJU BAND alias Super Junior. Walaupun nama-nama itu fanmade, tetapi kami tetap menggunakannya sebagai bahan lucu-lucuan dan biar Indonesia banget gitu loh. Kite kan nasionalis. #eaaa #kode

Kami dipertemukan dalam suasana mengharu biru di mana kami diharuskan tinggal jauh dari orang tua. Saat itu memang sama sekali tidak terpikirkan kalo kami bertiga bakal jadi Teletubbies-Tiga-Member-Kurang-Waras atau istilah kerennya BFF gitu. Jadi awalnya di asrama mahasiswa penuh kenangan itu saya ditakdirkan satu kamar dengan Dadang. Waktu itu masih canggung. Jelas dong ya, kan baru ketemu. Tapi seiring berjalannya waktu, si Usro menyusup masuk dan mengklaim dirinya sebagai penghuni kamar saya. Semena-mena, kan? Hehehe, nggak kok, bercanda.

Pokoknya itulah asal-muasal pertemuan kami yang terkesan klise, berawal sebagai roommate kemudian menjadi Teletubbies-Tiga-Member-Kurang-Waras. Kehidupan selama dua semester di asrama tidak seberapa berpengaruh hingga akhirnya kami memasuki semester ketiga dan keempat.

Ketika kami sudah angkat kaki dari asrama, hal-hal yang kabur mulai terlihat. Pesan-pesan misterius mulai terbaca walaupun samar-samar. The Tree of Life kehilangan 12  penjaganya yang terpecah menjadi dua dan hidup di dunia yang berbeda. Keduabelas penjaga pohon atau bahasa kerennya genderuwo itu bertransformasi menjadi serigala ngepet yang hobi pamer taring, hingga tibalah saatnya mereka disatukan dengan masih menggenggam elemen kekuatan masing-masing dan menginjakkan kaki di daratan yang sama. Ketika serigala-serigala ngepet itu lelah mengaum-sambil-pamer-gigi, tak lama kemudian mereka pensiun dari wujud serigala jadi-jadian dan merilis repackaged album yang bertajuk ‘Growl’. Jadi sebenernya ini mau ngomongin EXO atau apa, sih? Nggak jelas.

Langsung lompat ke dunia perkuliahan semester 4.

Saat itu adalah saat-saat di mana kami sedang lengket-lengketnya. Bagaimana tidak? Jadwal kuliah sama semua, men! Mau tak mau kami berangkat dan pulang ngampus bersama, menyeberangi lautan bersama, mendaki gunung lewati lembah bersama, pokoknya yang gitu-gitu. Apa-apa bareng. Jadi yang awalnya hanya sekadar temen kuliah, temen seneng-seneng, lama-lama jadi temen buat susah-susahan juga. Serasa menemukan keluarga baru yang entah dari mana awalnya tiba-tiba nyaman aja buat diajak cerita-cerita, dari hal yang umum sampai yang pribadiii banget.

Saking seringnya memiliki quality time bersama, lama kelamaan kami menyadari sesuatu.

Usro: “Eh kalian tau nggak siiih?”

Asep + Dadang: “Apaaa?”

Usro: “Bumi itu bulet loooh~”

Asep + Dadang: (lempar Usro pake globe)

Abaikan.

Seiring berjalannya waktu (lagi), kami sama-sama menyadari satu hal, bahwasanya kami memiliki beberapa pola pemikiran yang sama. We have so much in common. Klise, iya. Cara kami menjalani hidup hampir sama. Santai, ringan, berlagak nggak punya beban. Kami sangat nyambung ketika berhadapan dengan joke-joke garing hasil pemikiran kami sendiri –yang kadang mengandung sarkasme dan terkesan bodoh– yang tentu saja hanya kami yang mengerti. Kadang kami membuat istilah-istilah dan singkatan-singkatan aneh demi sekadar memenuhi selera humor kami yang mungkin terkesan payah. Kami sering tertawa karena hal-hal kecil, saling melontarkan ejekan yang jika ada orang awam mendengar, mungkin mereka akan mengerutkan kening, geleng-geleng kepala, serta reaksi lainnya yang serupa. Tapi… hey, bukankah persahabatan yang erat itu tercipta ketika kita sama sekali tidak memiliki rasa canggung satu sama lain, dan ketika kita memperlakukan mereka seperti saudara atau keluarga kita sendiri? Persahabatan itu ada ketika kita sepenuhnya menjadi diri sendiri ketika bersama mereka tanpa ada perasaan kikuk, dan itulah yang kami rasakan.

Penasaran kan dengan identitas asli kami? Baiklah, kali ini saya akan menuliskan sepercik profil (tsaaah) tentang manusia-manusia yang bisa dibilang menjadi agen perubahan hidup saya.

Makhluk hidup pertama adalah saudari Pratama atau yang tadi saya sebut sebagai Usro. Si Pratama ini cewek loh, yah. Jadi beliau ini adalah pelopor Gerakan Tidur Nasional. Harus saya akui bahwa selain dari bapak saya, hobi tidur yang saya geluti sekarang ini saya dapat dari beliau. Pratama ini hatinya lemah. Bagaimana tidak, baru jadi roommate beberapa saat aja sudah langsung tercekoki K-Pop oleh saya (ngakak nista). Beliau termasuk dalam FPS (Front Pembela Setan) karena mencintai seorang Raden Mas Cho Kyuhyun Djojodiningrat dengan sepenuh jiwa dan raga. Tapi akhir-akhir ini beliau pindah benua. Yap, beliau tengah menggandrungi boygroup asal Inggris, One Direction. Tiada hari baginya tanpa mengagumi pesona seorang Zayn Malik, yang namanya sering saya ucapkan dengan nada ngondek: “Jein Maleek~”. Baginya, cowok brewokan memiliki pesona tersendiri di matanya. Padahal saya jejeritan tiap dikasih lihat foto brewok si Malik yang di-zoom-in karena geli dengan bulu-bulu halus yang tumbuh berjaya di dagunya -___-

Akhir-akhir ini Pratama sedang gencar menggeluti bidang sastra. Gadis berkacamata minus ini hobi membuat prosa dan puisi yang sering saya tafsirkan, namun dengan hasil tafsiran yang nyeleneh. Ketika penafsiran saya akan karya-karyanya terdengar aneh, pasti beliau protes walaupun akhirnya ikut setuju. Beliau doyan banget menjelajah internet dan baca fanfiction. Penyuka film dan drama-drama romantis. Pengagum Lee Minho dan Eric ‘Shinhwa’. Paling ogah kalo diajak nonton film horor. Duh, padahal beliau kan member FPS, kok takut sama setan? -___- Tapi kalo lagi nonton drama romantis bareng, biasanya kami jejeritan sih tiap ada romantic scenes that we couldn’t resist.

Pratama sangat menyukai Sistar dan bias-nya adalah Bora, tapi kadang megap-megap kalo lihat Hyorin. Satu-satunya girlgroup Korea yang benar-benar memikat hati, katanya. Suka dan ingin belajar sexy dance (hayooo pasti sekarang lagi pada ngebayangin kalo beliau ber-sexy dance). Pratama ini menyukai warna hijau, makanya jangan heran kalo matanya sering reboisasi atau mengalami penghijauan alias mripate ijo (?). Beliau juga suka menyanyi dan suaranya sangat mendayu-dayu-aduhai-seksi-bo’, dan untuk saat ini beliau adalah partner saya dalam hal cover-meng-cover lagu. Tunggu project kami selanjutnya, ya! (?)

Satu lagi, dan ini adalah yang paling paling paling penting sekaligus merupakan poin utama dalam hubungan pertemanan saya dengan Pratama. Kami sangat menyukai, scratch it, kami SANGAT SANGAT menyukai skinship! Note it! Jadi jangan heran apabila suatu saat kalian menjumpai kami sedang melakukan adegan yang bisa bikin mata iritasi. Ya, saking dekatnya, kami tidak malu lagi untuk menunjukkan kemesraan di depan umum. Hahaha, we cherish our friendship in a romantic way 🙂

Lanjut ya.

Makhluk hidup kedua bernama Peti. Sebenarnya itu nama yang sudah dimodifikasi sih, hahaha. Masa’ ya namanya Peti, kan serem. Tetapi demi kemaslahatan umat, mari kita tetap gunakan nama tersebut untuk menyebut seonggok daging kunyus-kunyus ini.

Tahu kan kenapa Peti mendapat jatah nama Dadang? Yap, tak lain dan tak bukan adalah karena beliau mengidolakan seekor ikan asin berjalan yang bernama Lee Donghae! Tapi sekarang hatinya terbagi dua (tsaaah). Entah karena angin apa, tiba-tiba beliau kepincut pada boygroup beranggotakan enam om-om tampan-kaya-mapan-sejahtera yang telah eksis selama kurang lebih lima belas tahun. Yap, siapa lagi kalo bukan Shinhwa. Tampaknya Peti benar-benar menggandrungi Shinhwa karena belakangan ini beliau rajin men-download video-video yang Shinhwa-related. Sungguh senang, karena saya bisa dengan leluasa meng-copy video-video tersebut :3

Jadi Peti ini nge-bias-in Andy banget. Pokoknya nada suara khasnya ketika berkata “Andy Oppa~~” benar-benar tak terlupakan. Beliau sama sekali tidak ambil pusing dengan usia. Yang namanya idola ya tetap idola. Mau om-om, mau berondong, yang penting mereka bisa membawa motivasi positif pada diri kita. (Kalo yang ini sih menurut saya)

Jika dibandingkan dengan saya dan Pratama, Peti memiliki pikiran yang paling polos. Tak jarang beliau gagal menerjemahkan lelucon yang kami lontarkan. Sebaliknya, kami pun terkadang tidak bisa menggapai selera humornya, sehingga ketidakmengertian itu berakhir dengan derai tawa di antara kami. Tawa yang terdengar absurd karena tidak memahami apa yang ditertawakan. Namun sepolos-polosnya pikiran Peti, beliau ini sangat bisa diandalkan dalam segala bidang, terutama hitung-menghitung. Beuuuh~ jangan salah, keenceran otak beliau sering saya manfaatkan untuk menghitung harga buku diskonan di Gramedia maupun untuk menghitung hutang-hutang saya (?). Beliau tokcer banget kalo urusan angka dan selir-selirnya.

Ngomong-ngomong soal keenceran otak, ada satu hal yang bikin saya kagum sama Peti. Beliau ini orangnya super nyantai kayak di pantai (oke, ini basi). Jadi kalo ada dosen yang memberi tugas, jangan harap Peti bersedia ngerjain kalo belum H-1, atau setidaknya mepet-mepet hari H, sekalipun deadline-nya lima tahun. Tugas seribet apapun, beliau menghadapinya secara santai dan kalem. Sepertinya otak beliau memang telah merancang tugas-tugas itu sampai selesai, jadi beliau tinggal menyalin saja. Sungguh iri. Namun yang bikin saya semakin kagum pada beliau adalah dedikasinya yang luar biasa pada sesuatu yang disebut kerja kelompok. Ciyus. Jadi ketika ada tugas kelompok, beliau bisa kalang kabut sendiri. Beliau lebih peduli pada tugas kelompok daripada tugas-tugas yang diberikan secara individu. Sungguh, solidaritas beliau tinggi. Beliau lebih mementingkan kepentingan kelompok daripada kepentingannya sendiri 🙂

Demikianlah (?)

Makhluk hidup yang ketiga adalah saya. Apakah saya masih perlu untuk membeberkan segala sesuatu tentang diri saya? Bukankah kiranya sudah cukup bagi saya untuk buka-bukaan seperti yang sering saya lakukan di masa lalu, sampai-sampai saya menulis fakta-fakta tentang diri saya sendiri? -___- Jika ingin mengetahui saya lebih jauh dan lebih dalam, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi gendang bertalu-talu.

To be honest, I’m feeling grateful to have them as my besties. Terlepas dari kerusuhan-kerusuhan kecil di antara kami, eratnya hubungan membuat kami saling membutuhkan. Seandainya ada perselisihan pun, itu merupakan hal yang wajar. Namanya juga manusia dengan usia yang sama, apalagi dengan isi hati yang tidak menentu. Tetapi kami tidak pernah (dan jangan sampai) saling mendiamkan lebih dari satu hari. Mood yang buruk tidak pernah bertahan lama. Apabila salah satu mulai menciptakan conversation, ya sudah, kami pun berbincang akrab lagi tanpa dosa. Semoga seterusnya seperti itu 🙂

Jadi ketika ada yang mengatakan bahwa teman semasa kuliah adalah teman yang sebenar-benarnya, saya rasa anggapan itu tidak salah. Memiliki teman seperjuangan, apalagi jika kuliah di luar daerah yang jauh dari rumah, adalah hal yang sangat berharga. Menjalani semuanya bersama, senang dan sedih dirasakan bersama, saling merawat ketika sakit dan jauh dari orang tua (ini maknyesss banget :””). Pokoknya di sinilah kita bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi makhluk sosial yang sesungguhnya, di mana kita akan sangat kesulitan jika mengarungi hidup ini seorang diri #eaaa

Dari semua hal yang pernah saya lalui bersama dua cecunguk kesayangan itu, saya bisa belajar banyak dari mereka, dan mereka juga belajar banyak dari saya (belajar tentang ilmu keyadongan). Sebenarnya saya tidak tega menodai pikiran anak orang, tapi karena mereka telah saya anggap sebagai keluarga, tentu saja apa yang ada di pikiran saya ini harus saya tularkan hahaha.

Demikianlah tulisan aneh ini. semoga saya tidak terlalu membeberkan banyak hal dari teman-teman saya (itu tadi apaaa?). Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati saudara sekalian. Kami hanyalah manusia biasa yang haus akan kasih sayang dari oppa. Sekian dan terima kasih.

Kami datang, kami menang, kami menggelinjang.

***

“Ciyeee gitu aja ngambek. Alay, ah.”

Asep tak menggubris cibiran kedua temannya. Bibirnya mengerucut, mungkin karena masih dirundung perasaan kesal atas “kejutan” yang dihadiahkan oleh teman-temannya itu.

“Lo… beneran marah, ya? Maaf…” kedua manusia penuh kejutan itu mendadak memasang ekspresi bersalah dan wajah paling memelas yang pernah ada di muka bumi ini.

Asep menyipitkan matanya, lalu perlahan melembutkan ekspresi sembari menatap intens pada kedua temannya. Ia membelai pipi Usro penuh kasih sayang, serta memberi tepukan pelan pada bahu Dadang.

“Enggak kok, prakanca…” Asep berkata pelan sambil melepas kerudungnya, lalu kembali fokus menatap kedua temannya. “Lain kali sekalian ledakin bom di kamar ya. Ntar gue bantu bersihin puing-puing bangunannya.”

“…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s