Master’s Sun: Andai Aku Menjadi… Tae Gong Shil!

Salah satu hal yang kadang sulit dilakukan di dunia ini adalah memulai sesuatu. Sama halnya seperti saya ketika akan menulis postingan ini. Bingung harus mulai dari mana.

Tapi ya sudahlah. Apapun bunyi kalimat pembukanya, yang penting jangan sampe lupa ditutup (?)

Postingan kali ini nggak jauh-jauh dari imajinasi. Jangan bosen-bosen ya, hehe. Lagipula yang diimajinasikan bukan yang aneh-aneh kok, seperti kelanjutan MV ‘Now’-nya Trouble Maker misalnya. Bingung kan kalo ngebayangin bagaimana Hyuna meminta pertanggungjawaban Hyunseung, sementara pria bertubuh kurus itu telah ditembak mati dan hanya meninggalkan sepuntung rokok yang telah dihisap. Tak ada harta warisan untuk Hyuna, tak ada kenang-kenangan yang ditinggalkannya, yang ada hanyalah cinta yang terus membekas sampai kapanpun #eaaa

Poor Hyuna.

Well, kalian boleh menelan kekecewaan karena saya tidak akan membahas tentang MV sembilanbelasplusplus (berasa panti pijat) milik Trouble Maker. Bahkan topik kali ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Hyuna, Hyunseung, ataupun cewek-cewek bule yang bergelayutan di dada Hyunseung karena saya akan membahas tentang gwishin alias hantu.

Din, please. Nggak ada topik lain yang lebih mendidik, ya?

Diem dulu, jangan menginterupsi tulisan gue!

Saya baru saja menyelesaikan sebuah drama Korea yang membuat hati bergetar dan darah berdesir, serta berhasil membuat saya move on dari pesona terkutuk milik Song Joongki. Judulnya adalah ‘주군의 태양’ (Jugun-ui Taeyang) atau ‘Master’s Sun’. Walaupun masih terdapat bumbu-bumbu cinta, namun drama ini menyuguhkan sesuatu yang sedikit berbeda, yaitu hantu-hantuan. Genre horror dan romance bisa akur ketika disatukan dalam drama yang dibintangi oleh So Ji Sub (KYAAAA So Ji Sub ahjussi tampan nan kece dambaan hati para wanita :3) ini.

Awalnya sih sama sekali nggak ada niatan untuk nonton Master’s Sun, karena saya merupakan pribadi yang penakut akan hal-hal mistis walaupun saya mau-mau aja dan suka kalo diajakin nonton film horor. Tapi karena banyak yang bilang kalo drama itu bagus dan rating-nya tinggi (kalo drama yang rating-nya tinggi kan otomatis dramanya berhasil), maka saya mulai mencari-cari mangsa untuk dirampok dengan beringas. Maksudnya saya nyari temen yang punya file dramanya, jadi saya nggak perlu repot-repot download, dan Alhamdulillah rejeki emang nggak ke mana. Akhirnya saya bisa mendapatkan drama itu tanpa harus bersusah payah :3

Setelah meng-copy-paste-kan folder Master’s Sun ke laptop saya yang harddisk internalnya mulai memerah layaknya punggung abis dikerokin, saya pun mulai menonton episode pertama saat itu juga, dan keadaan saat itu adalah malam hari. Padahal episode-episode awal adalah momen-momen di mana jalan cerita drama itu masih fokus sama hantu-hantuannya. Perlu diketahui bahwa manusia penakut seperti saya mudah sekali berpacu jantung hanya karena melihat seonggok sosok berwajah abstrak yang mendadak berubah menjadi nenek-nenek pucet. Hantu-hantu di drama itu memang dirancang sedemikian rupa untuk memiliki wajah se-absurd dan setidakmanusiawi mungkin, serta kemunculannya sangat tidak disangka-sangka. Kadang ketika saya lagi khusuk mantengin layar, tiba-tiba hantunya udah nongol di depan idung dan di-zoom in pula. Biasanya saya langsung jejeritan nggak karuan sampe roommates saya geleng-geleng kepala. Makanya ketika nonton episode-episode awal, saya nggak tega me-maximize tampilan video player-nya. Saya nontonnya pake ukuran kecil biar nggak kaget-kaget amat kalo hantunya tiba-tiba nongol -___-

Kok malah curhat.

Lanjut ya. Jadi menurut saya pribadi, drama Master’s Sun ini termasuk dalam kategori bagus. Sebenernya kriteria saya dalam menilai sebuah drama nggak ribet-ribet amat sih. Pokoknya ketika saya menonton (katakanlah) 10-15 menit pertama episode 1 dan ternyata saya ingin lanjut nonton episode 2, maka drama itu bisa dikatakan menarik. Apabila episode 2 selesai dan ternyata saya ingin melanjutkan ke episode-episode berikutnya yang disertai dengan rasa penasaran yang tinggi, bahkan tak jarang sampe marathon (sehari bisa menonton beberapa episode sekaligus), berarti drama tersebut berhasil menggugah hati saya dan saya berani mengatakan bahwa dramanya bagus. Sederhana, karena saya bukan pengamat drama yang menyoroti tentang hal-hal mendetail dari sebuah produksi drama.

Langsung saja menuju topik bahasan utama.

Drama Master’s Sun berkisah tentang seorang wanita bernama Tae Gongshil atau akrab disapa Taeyang (berarti matahari) yang memiliki keistimewaan yaitu bisa melihat dan berbicara dengan hantu dan arwah orang yang telah meninggal. Kemampuan tersebut didapat Gongshil sejak ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya koma selama 3 tahun. Katanya sih Gongshil bersinar sangat terang di antara para hantu. Sejak saat itu, Gongshil dan hantu menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hantu-hantu tersebut terus berdatangan dalam hidupnya untuk meminta bantuan atas masalah-masalah duniawi yang belum terselesaikan. Walaupun telah akrab dengan berbagai macam hantu di sekitarnya, tapi Gongshil tetap merasa ketakutan apabila melihat hantu yang wajahnya tidak manusiawi. Terkadang ia juga dihinggapi perasaan lelah dan tidak ingin melihat hantu lagi karena makhluk-makhluk gaib itu tak henti-hentinya meminta pertolongan padanya. Ya iyalah, Gongshil juga manusia biasa kok. Tapi Gongshil tak punya pilihan lain selain membantu ‘mereka’.

Singkat cerita, suatu malam Gongshil baru saja menolong sehantu(?) nenek-nenek yang baru saja meninggal. Saat itu hujan turun dengan lebat, sementara Gongshil dengan kasualnya hanya mengenakan jas hujan plastik dan nekat menerobos jalanan yang becek. Sebagai seseorang yang mendambakan kehangatan (tsaaah), tentu saja Gongshil tidak ingin susah payah pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Saat itu jalanan cukup sepi, namun penulis skenario cukup berbaik hati pada Gongshil, karena tak lama kemudian lewatlah sebuah mobil yang ditumpangi Joo Jungwon (SO JI SUB AHJUSSEEEE) dan sekretarisnya, yang malam itu baru saja menyelesaikan kasus sengketa lahan (?). Awalnya Joo Jungwon dan sekretarisnya tidak bersedia memberi tumpangan pada Gongshil, namun karena suatu hal, Sekretaris Kim secara otomatis memundurkan mobilnya dan akhirnya Gongshil sukses mendapatkan tebengan! \(´▽`)/

Pertemuan pertama Tae Gongshil dan Joo Jungwon itu tentu saja menjadi tonggak awal bagi hubungan mereka. Gongshil terkejut tatkala ia menyadari bahwa hantu-hantu yang mengikutinya hilang ketika ia melakukan kontak fisik dengan Jungwon. Gongshil pun berpikir bahwa hantu-hantu itu tak akan mengikutinya apabila ia berada di dekat Jungwon, dan tanpa sadar kenyataan itu membuat dirinya berubah menjadi kegenitan. Jadi kelakuannya macam cewek yang hobi goda-godain cowok CEO kaya dan selalu ngintilin ke manapun cowok itu pergi. Tentu saja awalnya Jungwon merasa risih karena Gongshil terus menempel padanya, lagipula tidak semudah itu baginya untuk mempercayai kata-kata Gongshil tentang hal-hal gaib yang melingkupi hidupnya. Namun, lama-lama keberadaan Gongshil di dekatnya menjadi suatu hal yang wajar dan ia berpikir bahwa Gongshil ada gunanya. Jungwon pun melakukan kesepakatan dengan Gongshil, bahwasanya Gongshil boleh ‘menyentuhnya’ ketika didatangi hantu, tapi dengan catatan Gongshil bersedia menjadi “Radar 10 Juta Won” untuk mengungkap kisah masa lalu Jungwon, yang tentu saja masih ada hubungannya dengan hantu, yaitu cinta pertama Jungwon yang telah meninggal. Ketika sedang berusaha mencari jawaban tentang kisah pelik tersebut, benih-benih cintapun mulai muncul di antara mereka berdua. Tapi bukan drama Korea dong kalo nggak ada rival dalam percintaan, hahaha. Di sini terjadi cinta segitiga antara Tae Gongshil – Joo Jungwon – Kang Woo (Seo In Guk KYAAAAA). Jadi Kang Woo ini adalah seorang sekuriti tampan nan rupawan yang dipekerjakan di mall milik Jungwon. Lucunya, Kang Woo yang terlihat gagah berani membela kebenaran dan keadilan serta membuat copet bertekuk lutut itu ternyata sangat takut pada hantu. Istilahnya sangar-sangar Hello Kitty gitu lah.

Kkeut! (?)

Saya nggak akan bercerita lebih lanjut lagi. Kalo penasaran, silahkan luangkan waktu untuk menonton drama yang highly recommended ini. Yang jelas drama ini menjadi lebih menarik justru karena disisipi kisah-kisah dari para hantu yang ditolong oleh Gongshil. Hantu-hantu itu tidak selamanya menakutkan, lho. Sebut saja hantu pelajar SMA bernama Joonsuk yang kalo senyum imutnya nggak ketulungan tapi kerjaannya minta kopi gratisan. Walaupun kelebihan make up, tetap saja Joonsuk ini menjadi hantu favorit saya hahaha. Ada beberapa memorable and unforgettable scene yang saya simpan dari drama ini, salah satunya yaitu ketika Joo Jungwon, Kang Woo, dan Sekretaris Kim menghibur hantu anak kecil dengan menyanyikan lagu Tiga Beruang. Ekspresi Jungwon njelehi total! Saya nggak bisa berhenti ketawa ketika adegan itu XD. Selain itu ada pula scene di mana Gongshil tidak sadar dan dirasuki hantu-hantu yang eksis bergentayangan di rumah Jungwon. Jadi Gongshil ini dalam sekejap bisa berkelakuan seperti penari balet, madam-madam Perancis, sampai anjing dan kucing -___- Unsur humor yang diselipkan di sini sama sekali nggak gagal dan justru memberikan penyegaran.

Seperti biasa, saya tidak akan mengakhiri sinopsis nanggung ini dengan kalimat penutup, melainkan khayalan tingkat tinggi terlebih dahulu. Jika kemarin-kemarin saya membayangkan berada di posisi Jang Hyeseong dan Park Sooha (‘I Hear Your Voice’), maka kali ini tentu saja saya akan mencoba memposisikan diri menjadi Tae GongShil, sahabat para hantu! Kebayang nggak sih kalo hidup kita yang damai ini tiba-tiba kedatangan tamu-tamu halus yang menemani keseharian kita? Sanggupkah kita menjalani hidup seperti Tae Gongshil yang dituntut untuk melihat wajah-wajah mengerikan itu setiap hari? Berikut ini adalah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila saya adalah Tae Gongshil dan Tae Gongshil adalah saya.

  • Mata panda. Jelas to ya, bahkan Tae Gongshil juga mendapatkan lingkaran hitam di bawah matanya gara-gara terganggu oleh kedatangan para hantu sehingga mengacaukan jatah tidurnya. Hantu-hantu itu nggak kenal waktu kalo meminta pertolongan. Kalo belum mendapatkan apa yang ‘mereka’ mau, ya bakalan terus nguber. Bisa-bisa kantung mata saya muat buat ngantongin duit receh.
  • Nongkrong di kuburan. Di drama Master’s Sun sendiri, Tae Gongshil tak jarang berkunjung ke areal pemakaman dan bersilaturrahmi dengan para penghuninya. Untung Tae Gongshil nggak alay. Kalo misalnya beliau alay, bisa-bisa setiap kali beliau buka SNS atau jejaring sosial, update-annya kurang lebih seperti ini:

–          “Otw kuburan desa sebelah” – with 2 others (kemudian upload selca bersama 2 makhluk gaib)

–          “Duuuh bete. Udah beberapa hari susah tidur gara-gara direcokin hantu yang minta dibeliin AC sama kursi pijat. Di dalem liang kubur panas katanya, trus sering pegel-pegel gara-gara tiduran terus.” (upload selca dengan lingkaran hitam di bawah mata yang ditebelin pake pensil standar Ujian Nasional)

–          “Nih hantu bisa diem nggak, sih? Dari tadi berdendang lagunya Kangenben di kuping gue. Nggak tahu apa kalo suaranya fals?”

–          (Upload selca bareng hantu ganteng nan gagah) “Perkenalkan mangsa baru gue. Ganteng, kan? Tapi sayang, dia mati gara-gara kepleset kulit pisang pas lagi nyeberang di jembatan penyeberangan. Alhasil dia jatuh trus kelindes deh sama gerobak sayur.”

–          Dan seterusnya.

Saya juga berpotensi alay sih, hahaha. Apa jadinya kalo upload-an foto di akun SNS saya semuanya nggak jelas? Foto pojokan toilet, batu nisan, tempat-tempat gelap, dan sebangsanya, dilengkapi dengan wejangan-wejangan mesra tentang dunia gaib. Ujung-ujungnya juga saya minta bantuan lewat jejaring sosial, misalnya “DARURAT! Tante Hantu ini wajahnya udah berminyak, rambutnya lembek, dan bibir pecah-pecah! Dia butuh pertolongan! Segera bawa dia ke salon terdekaaat!”

0 likes, 0 comments.

0 retweets.

Krik, krik.

Pada akhirnya saya sendirilah yang harus melakukan treatment pada Tante Hantu itu. Miris. Diri sendiri aja jarang dirawat, eh ini malah sempet-sempetnya ngerawat hantu. Tapi lumayan sih, kalo beliau puas, saya punya peluang usaha, yaitu buka salon khusus hantu.

  • Memanfaatkan hantu untuk menjaga sesuatu. Inget nggak ketika Joo Jungwon meletakkan kalung berbandul matahari di bangku mall yang biasa diduduki oleh Hantu-Ahjussi-Tempat-Sampah-yang-Kalah-Main-Togel? Sebenernya kalung itu hadiah untuk Gongshil, tapi karena gengsi apabila memberikannya secara langsung, maka Jungwon menitipkannya pada Hantu Ahjussi. Jadi ketika ada yang menyangka kalung itu tak bertuan dan berniat mengambilnya, Ahjussi itu menggoyangkan tutup tempat sampah sehingga orang-orang merasa parno, trus nggak jadi ngambil kalungnya deh. Saya juga mau dong memanfaatkan hantu sebagai penitipan barang. Jadi saya nggak perlu khawatir lagi kalo meletakkan barang-barang sembarangan. Ketika saya kelupaan naruh sesuatu, saya bisa meminta bantuan pada ‘mereka’ sewaktu-waktu. Apalagi saya orangnya ceroboh.
  • Kalo misalnya ada hantu yang punya 12 elemen kekuatan macam EXO, pasti keren banget ya. Saya paling naksir sama ilmu teleport-nya Kai. Kan lumayan, ke mana-mana gratis, nggak ribet, dan nggak makan banyak waktu. Hanya dengan satu kedipan mata, dan cling! Saya telah tiba di tempat tujuan. Jadi setelah saya menolong hantu itu dengan urusan dunianya, saya bisa meminta dia teken kontak untuk jadi ojek pribadi saya. Ojek aja pake teleport, kece nggak tuh? Sekalian mengontrak kekuatan-kekuatan lain yang bisa saya manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Nanti hantu-hantu itu berkumpul dan membentuk grup. Nggak perlu trainee, kelamaan. Langsung debut aja. Debut jadi anak buah saya, HAHAHAHAHA (ngakak gahar). Daripada mereka nggak ada kerjaan dan cuma nongkrong di pojokan toilet? Toh niat saya baik, yaitu mengurangi angka pengangguran di kalangan hantu.

Terlepas dari segala keuntungan yang saya bayangkan apabila saya “mengenal” hantu dengan baik, pasti ujung-ujungnya kembali lagi pada sifat saya yang penakut. Gimana ya… walaupun keadaan memaksa, dan mungkin saya juga lama-lama akan terbiasa, tapi saya tidak yakin saya bisa tahan dengan wajah-wajah semrawut ‘mereka’. Saya orangnya suka nggak tega kalo lihat yang serem-serem. Lihat darah aja mengkeret, lah ini disuruh lihat hantu yang wajahnya berdarah-darah, dan itu bukan hanya sekali-dua kali, tapi setiap hari. Wegah! -___- Saya mau-mau aja jadi Tae Gongshil, tapi hanya di bagian momen-momen manis bersama CEO Joo Jungwon. Hahaha maunya. Ya gimana sih, So Ji Sub ahjussi gitu loh. Pesonanya sulit ditangkal. Kalo di drama ini, pasti paling inget dengan gestur khasnya Joo Jungwon ketika bilang “Ga!” (pergi!) atau “Gojo!”(?) (pokoknya artinya itu ‘get lost!‘) sambil mengibaskan tangannya di depan wajah. Haaa benar-benar teknik pengusiran yang kharismatik.

Well, drama ini mengajarkan kita tentang adanya kehidupan atau dimensi lain di sekitar kita. Yah, walaupun visualisasinya telah dioprek sedemikian rupa sehingga efek dramatis dan nggak-masuk-akalis itu tetap ada, yang jelas pesan tersiratnya adalah kita harus menghormati ‘mereka’, dan jangan sekali-sekali meremehkan orang yang telah tiada. Intinya toleransi antarkehidupan itu juga harus dipupuk sehingga kita tidak saling merecoki satu sama lain.

Ketakutan terbesar ada dalam diri kita. Hal-hal mengerikan yang kita takuti selama ini berasal dari dalam hati kita, dan satu-satunya yang bisa mengatasi rasa takut itu adalah diri kita sendiri 🙂

Sekian dan terima kasih.

– Syupeodinie –

Advertisements

2 thoughts on “Master’s Sun: Andai Aku Menjadi… Tae Gong Shil!

  1. Bang/?. Pen nanya nih, hantu pelajar yang kece itu nanya joonsuk? Nama aslinya dia siapa? Adaw dia tamvan sangat :v jadinya gue pen tau nama asli dia siapa aktor atau member bb gitj/? :v tolong dibales ya yanq/? :v sekian dan terima emas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s