I (Don’t) Want to be An Idol — Sekelumit Kisah Tentang Oppa dan Eonni :”)

Because of the endless schedule, it’s not easy to see your face

Me inside the TV, you’re watching me on TV – that’s how we date

Sebut saja dia “Oppa”, karena para fangirl seringkali memanggilnya begitu. Oppa sedang galau. Bukan, bukan galau karena masalah jadwal fansigning atau konser yang menggunung, bukan juga karena pembagian honor yang kurang merata sehingga ia jarang mendapat asupan gizi yang cukup, melainkan karena seorang wanita.

Apa, wanita?

 

Jadi Oppa sekarang sudah punya pacar? Capa? Nak mana? Leh kenalan gak?

 

Apa?! Oppa punya pacar seorang wanita tulen? OH TIDAAAAAAKKK!!! Lalu bagaimana nasib OTP boy x boy yang selama ini dipuja-puja bangsa homoshipper? Enyah kau hey wanita! Biarkan OTP kami bersatu!

HAHAHAHAHAHA~ Kok ngakak ya.

Ya, Oppa sekarang punya pacar. He has a girlfriend. Anggap saja demikian karena saya kembali mengajak Anda semua untuk berimajinasi. Hidup di dunia imajinasi memang tidak selamanya indah, tapi percayalah, ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan menghadapi kenyataan-kenyataan yang terjadi di dunia nyata.

Kembali ke Oppa.

Pacar Oppa namanya Eonni. Anggap saja Eonni berumuran sama atau lebih muda dari Oppa sedikitnya dua tahun, atau berapa aja deh. Suka-suka kalian, kan kalian yang berimajinasi.

Jadi ceritanya Oppa dan Eonni telah menjadin hubungan selama beberapa tahun, bisa jadi ketika Oppa masih menjabat sebagai trainee dekil yang tak terurus. Ya, mereka telah berhubungan selama itu. Eonni telah mengenal Oppa sebelum Oppa sekinclong sekarang. Eonni telah melihat sisi ‘njelehi’ Oppa melebihi apa yang telah kita lihat di video. Eonni tahu sejauh mana Oppa berusaha, sedalam apa Oppa mencurahkan segenap hasil latihannya kepada para fans yang berteriak histeris, bahkan Eonni tahu berapa liter keringat yang mengucur dari tubuh Oppa setiap harinya. Eonni tahu betul akan semua itu, dan tentu sama ia tahu bahwa seluruh tenaga Oppa bukan ditujukan untuk diri Eonni, melainkan untuk fans-nya.

Apakah Eonni marah? Kesal? Sakit hati? Merasa terabaikan?

Sesekali pasti iya. Eonni juga manusia. Hatinya tetap menggumpal dan lembek serta rentan terkena penyakit hati. Mana mungkin Eonni kalem-kalem saja dengan kenyataan bahwa Oppa lebih mementingkan karir dan penggemar dibandingkan kekasihnya? Berani taruhan, pasti Eonni juga ingin disayang-sayang, ingin memiliki Oppa seutuhnya, menginginkan Oppa terus berada di sampingnya.

Should I quit?

When I think about you, I keep getting weak

Oppa baru saja pulang dari perjalanan hidup hariannya yang panjang. Ia langsung menuju kamar dorm-nya yang masih dihiasi dengan baju-baju berserakan, namun ia tidak peduli. Tubuhnya terlalu lelah untuk sekadar memunguti baju-baju itu dan memasukkannya ke tong sampah. Maklum, Oppa banyak uang. Baju bukanlah perkara sulit dalam hidup ini. Baju dari sponsor koleksi Oppa masih banyak, tenang saja.

Singkat cerita, Oppa berbaring di kamar yang gelap karena lampu kamarnya telah habis masa trial. Haha, bercanda. Oppa memang suka tidur gelap-gelapan agar bisa lebih khusuk ngegalauin Eonni (eaaa). Meskipun badan serasa dihantam emas batangan berton-ton, tetapi Oppa tidak lantas meluncur ke alam mimpi secepat itu. ia memejamkan mata, namun segudang pikiran merasuki otaknya yang penuh beban. Ia memikirkan Eonni malam itu. Seharian mereka hanya berkirim kabar melalui pesan singkat, itupun hanya beberapa, padahal gratisan SMS Oppa masih banyak. Karena kegalauan tak kunjung padam, maka Oppa memutuskan untuk SMS-an dengan dirinya sendiri (?).

 

[+8240577312**] — Gue galau~

[+8240577312**] — Trus gue peduli gitu?

[+8240577312**] — Haruskah gue mengakhiri semua ini?

[+8240577312**] — Mengakhiri yang mana maksud lo? Cewek lo atau karir lo?

[+8240577312**] — …………………

[+8240577312**] — Ah, sudahlah~ gue mau tidur aja. (banting hape)

 

Tapi tampaknya kegalauan itu tidak akan reda begitu saja. Oppa tetap tidak bisa tidur, padahal ia ingin cepat-cepat berlayar ke alam mimpi dan bertemu Eonni di sana. Rencananya ia akan bertanya, apakah ia memang harus berhenti? Apakah ia harus melepaskan semuanya? Hati Oppa sakit setiap kali memikirkan semua itu. Hati Oppa terlalu lemah.

Because I’m an idol, because I’m a celebrity

I can’t hold your hand when we walk, but

When I become more famous

When I become more confident

I will give you all the love I couldn’t give you now

Skenario-skenario di kepala Oppa masih berlanjut hingga berjam-jam lamanya. Ia terus memikirkan kemungkinan ini dan itu, serta tak lupa risiko-risiko yang akan ia terima. Ia terus bergumul dengan segenap huruf-huruf di kepalanya sepanjang malam.

Kalau begini caranya Oppa nggak tidur-tidur, dong! Kasihan Oppa, dia udah kecapekan seharian, Din! Biarkan dia tidur dengan tenang.

 

Suka-suka gue dong! HAHAHA~ Mamam tuh Oppa! :3

Oppa ingin lepas dari belenggu yang menyergap segenap kebebasannya. Ia ingin keluar dari penjara tak terlihat dan undang-undang tak tertulis yang melingkupi ruang geraknya. Tapi Oppa segera sadar bahwa ini memang jalannya. Ini pilihannya. Menjadi seseorang yang berkarir di bidang impian, tentu saja tak ada yang ingin membuang kesempatan itu, termasuk Oppa. Mimpinya sejak dulu adalah menjadi seorang entertainer, penyanyi, pemusik, penari, atau apalah itu, termasuk visual tulen yang kerjaannya hanya lompat-lompat di panggung :””) Bagaimanapun hal itu sangat membanggakan bagi Oppa dan orang-orang yang mendukungnya hingga ia berada di titik ini. Andil terbesar tentu saja diberikan oleh penggemar. Para penggemarlah yang membuat Oppa tetap bertahan. Mereka telah memberi makan Oppa dengan membayar tiket-tiket konser dan membeli album. Mereka telah memperbaiki kualitas hidup Oppa sedemikian drastisnya. Penggemar sangatlah berjasa dalam karir Oppa, oleh karena itu Oppa tak akan kuasa meninggalkan penggemarnya :””

Lalu, bagaimana dengan Eonni?

Tentu saja Eonni juga sangat sangat sangat berjasa bagi hidup Oppa. Eonni adalah orang yang berdiri di belakang Oppa di saat para penggemar justru berbaris di depannya. Eonni rela memantau Oppa dari belakang panggung atau bahkan hanya dari layar TV ketika jutaan penggemar rela membayar mahal hanya untuk berdiri di depan Oppa. Cukup dengan melihat wajah Oppa dari layar, Eonni merasa sangat bangga karena lelakinya berdiri dengan gagah di atas panggung demi jutaan orang yang tidak dikenalnya namun sangat berharga baginya. Eonni akan bertepuk tangan dengan sangat bahagia ketika Oppa menyelesaikan penampilannya dengan sempurna. Ia bertepuk tangan dengan semangat seolah besok ia akan kehilangan kedua tangannya.

Setelah momen itu, Oppa akan berlari ke belakang panggung dan memeluk Eonni, membagi perasaan bangga dan bahagia yang membuncah.

APA?! OPPA NGAPAIN PELUK-PELUK WANITA ITU? MAU NANGIS AJAAAA!!

 

Bisa diem nggak sih? (lempar lakban sekarung)

Pada momen itu pula Oppa berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan melepaskan keduanya. Ia tidak akan melepaskan Eonni maupun karirnya. Dua hal itu adalah anugerah terindah dalam hidupnya dan ia tidak akan membuang pemberian dari Tuhan begitu saja. Suatu saat nanti jika Oppa telah memiliki kepercayaan diri yang cukup, ketika Oppa menghilangkan sifat “pengecut”-nya, dan ketika dunia perlahan-lahan berpihak padanya, ia akan memberikan lebih banyak hal pada Eonni. Ia akan melunasi “hutang”nya pada Eonni. Ia akan menyembuhkan hati Eonni yang penuh tambalan karena bertahan dengan seorang pria yang ragu pada dirinya sendiri. Suatu saat nanti ia akan menebus semua itu, perlahan tapi pasti.

I want to go out and go to the movies

I want to stick close to you and walk all day

Things that everyone else does

Things that are normal

Those things are difficult for us

I wondered if we should break up a few times

But I love you too much

Lagi-lagi Oppa dan Eonni hanyalah manusia biasa yang diliputi oleh nafsu (?). Sama halnya dengan Eonni, Oppa juga memiliki hati yang lembek. Hatinya serasa tersayat sembilu ketika menyaksikan pemandangan indah dari balik kaca mobilnya berupa muda-mudi yang asyik memadu kasih di tempat umum, berjalan bersama sambil bergandengan tangan, pergi ke bioskop dan menonton ‘The Conjuring’, makan bersama di kedai-kedai kakilima, maupun bersepeda di sekitar Sungai Han. Ia juga ingin melakukan hal-hal semacam itu bersama Eonni. Ia juga ingin menggandeng tangan Eonni di tempat umum, Myeongdong misalnya, berbelanja bersama di mall atau sekadar berjalan santai di taman kota. Oppa ingin melakukan semua itu tanpa harus membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan segala macam kain kecuali kain kafan, namun ia tidak bisa. Ketika ia mendongakkan kepala dari jendela mobil saja semua mata langsung tertuju padanya. Bagaimana mungkin ia merelakan Eonni menjadi sasaran empuk untuk ditelanjangi oleh mulut ember netizen dan menjadi bulan-bulanan di internet? Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tidak akan pernah.

Oppa sadar, banyak hal yang belum dilakukannya untuk Eonni. Ia belum bisa memberikan yang terbaik untuk Eonni meskipun ia telah mencobanya. Ketika ia merasa tidak pantas mendapatkan Eonni yang begitu penyabar dan penyayang walaupun sering ngambek (?), namun perasaan yang dimilikinya begitu kuat sehingga ia masih tetap mempertahankan Eonni. Ia belum bisa menemukan alasan untuk melepaskan Eonni, dan mungkin tidak akan pernah bisa.

As much as I love you

Music is so important to me too

So I can’t help it

After some time passes

After I become a bit more famous

I will reveal you to the world – I love you

Oppa menghela nafas, masih memejamkan matanya. Kegelapan di kamarnya terasa sama pekat dengan suasana hatinya.

Oppa memanggil kembali potongan memori ketika ia menjadi trainee. Saat itu ia benar-benar berjuang untuk mewujudkan mimpinya, untuk membahagiakan orang-orang yang ia sayangi. Oppa sangat menyukai bidang yang digelutinya saat ini. Musik yang ia ciptakan adalah salah satu tumpuan hidup yang sulit ia temukan penggantinya. Ia ingin terus bermusik, ia ingin terus menggenggam mimpinya sekalipun mimpi itu telah terwujud. Ketika keindahan mimpi itu telah muncul, maka itulah saatnya Oppa memperkenalkan Eonni kepada dunia. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia memiliki orang yang sama pentingnya seperti keluarga, musik, dan penggemarnya. Dunia harus tahu bahwa Eonni telah melewati hari-hari yang berat, sama seperti dirinya. Seisi planet berhak mengerti bahwa Oppa mencintai Eonni.

Because of all the cameras

Because of my manager

I kept pushing back our dates

When my music succeeds

When everything goes well

I will give you all the love I couldn’t give you now

Sebagai seorang entertainer, tentu saja Oppa disuguhi blitz kamera hampir setiap hari. Oppa sangat jarang memiliki waktu untuk sendiri. Teman-teman satu grup, manajer, kru, paparazzi, penggemar, fansite master (?), semua itu adalah “teman” Oppa dalam menjalani hari-harinya. Setiap langkah Oppa tak luput dari bidikan-bidikan alat pengambil gambar yang membuatnya harus ekstra hati-hati dalam bertindak. Oppa tidak boleh gegabah. Bahkan untuk bertemu Eonni saja ia kesulitan. Eonni memang pantas jika kadang-kadang sedikit protes, namun Eonni terlalu penyabar. Jika tidak, mana mungkin Oppa mempertahankannya? :” Tenang saja, jika semuanya berjalan dengan baik, Oppa akan menunjukkan Eonni kepada dunia dengan segenap kelelakiannya. Jangan khawatir :””)

I’ll do everything for you

I’ll give you everything

This song is for you – I love you

Oppa cinta Eonni, terserah apa kata orang. Oppa tidak berniat melajang seumur hidup. Oppa butuh kasih sayang. Oppa juga manusia, punya rasa punya hati 🙂

LAGUNYA MAKJLEBBB :”””)

– Syupeodinie –

Advertisements

2 thoughts on “I (Don’t) Want to be An Idol — Sekelumit Kisah Tentang Oppa dan Eonni :”)

  1. I don’t want to be an idol! Lagu pertama VIXX yang aku suka banget. Emang artinya jleb banget lagu itu. Aku ga terlalu ngerti VIXX sih, tapi aku suka banget sm lagu itu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s