I (Don’t) Hear Your Voice

voice_of_user2

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah drama Korea berjudul “너의 목소리가 들려” (Neoui moksori-ga deullyeo) atau dalam bahasa Inggris artinya “I Hear Your Voice”. Saya mendengar kabar bahwa drama SBS ini meraih rating yang cukup tinggi di Korea sana, dan saya yakin di Indonesia pun banyak yang mengikuti drama ini. Drama yang cukup berhasil.

Saya tidak akan mengupas tuntas mengenai drama IHYV ini, tapi di sini saya ingin berandai-andai saja. Mengkhayal. Berimajinasi. Bebas.

Cuma ingin cerita sedikit. I Hear Your Voice mengisahkan tentang Jang Hye Seong, seorang public defender yang memiliki kisah heroik setelah menjadi saksi di persidangan pada sepuluh tahun silam. Jadi suatu malam si Mbak Hye Seong ini menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang pria yang merupakan ayah dari Park Soo Ha (anak kecil polos kunyus-kunyus gitu) dihabisi di tempat oleh Min Joon Gook, yang belakangan diketahui bahwa si Min Joon Gook ini punya dendam kesumat pada ayah Soo Ha. Awalnya Joon Gook mengancam Hye Seong untuk tutup mulut dan jangan sampe bilang siapa-siapa tentang kejadian itu, tapi Hye Seong mengikuti kata hatinya dan akhirnya dia nongol deh di persidangan untuk membuktikan bahwa Min Joon Gook bersalah. Alhasil Min Joon Gook geram dan menuliskan nama Jang Hye Seong di Death Note (oke, ini ngarang).

Anyway, Park Soo Ha, karakter utama pria dalam drama ini, memiliki kemampuan spesial yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan. Dia bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain hanya dengan menatap mata orang itu. Wow, such an amazing power. Jadi ada satu scene yang menggambarkan bahwa hidup Soo Ha itu berisik banget. Tiap dia jalan di keramaian, pasti telinganya dijejali oleh suara-suara yang berasal dari pikiran orang-orang di sekitarnya. Bahkan dia sempet baca pikiran seorang cewek yang sakit perut karena lagi mens (trus kenapa). Kemampuan itu didapatnya secara tiba-tiba ketika dia menyaksikan ayahnya dibunuh.

Singkat cerita, Min Joon Gook tidak melepaskan Jang Hye Seong begitu saja. Pria itu masih bersikeras membalas dendam setelah dia bebas dari penjara. Ketika mendengar Min Joon Gook bebas, Soo Ha panik dong karena sebelumnya dia udah janji pada dirinya sendiri untuk melindungi Hye Seong. Dari situlah kisah-kisah menarik terjadi. Bagaimana Soo Ha akhirnya bisa bertemu kembali dengan Hye Seong setelah sekian tahun lamanya, bagaimana Hye Seong memanfaatkan superpower Soo Ha untuk menyelesaikan kasus-kasus pelik di pengadilan, bagaimana Min Joon Gook melancarkan aksinya berkali-kali untuk balas dendam, dan di sini banyak rahasia yang terungkap.

Drama yang cukup menarik. Saya pribadi belajar banyak dari drama ini, terutama tentang cara kerja orang-orang di pengadilan. Saya awalnya asing banget dengan hal-hal yang berbau hukum dan baru kali ini saya beranggapan bahwa dunia hukum itu menarik, tentu saja kalo dijalani dengan jujur :3

Sebenernya saya tidak akan menyoroti drama ini secara detail. Saya bukan kritikus drama hahaha. Intinya saya sangat menikmati meskipun ada satu-dua bagian yang menurut saya kurang greget. Tapi overall bagus lah. No wonder drama ini dapet rating bagus. Ini adalah salah satu drama yang sangat saya tunggu-tunggu setiap episode-nya setelah sebelumnya drama Nice Guy sangat mencuri perhatian saya sampe susah move on, hahaha.

Trus kamu mau ngapain, Din?

Semenjak nonton IHYV, saya jadi sering mikir seandainya saya berada di posisi Soo Ha atau Hye Seong. Enggak sih, sebenernya hampir setiap kali menonton drama, saya sebisa mungkin memposisikan diri menjadi karakter di drama itu. Drama 49 Days misalnya. Saya bersusah payah memposisikan diri menjadi Shin Ji Hyun, gadis yang sekarat karena sebuah kecelakaan dan mendapat misi untuk mengoleksi tiga tetes air mata murni. Air mata murni di sini maksudnya adalah air mata yang jatuh dari orang-orang yang tulus mencintai dia. Orang itu harus benar-benar menangis karena cinta dan bukan karena kasihan atau formalitas belaka. Kalo selama 49 hari itu dia berhasil mendapatkan tiga tetes air mata murni, dia akan diberi kesempatan untuk hidup. Tapi kalo enggak, ya wassalam. Ribet, kan? Tapi toh akhirnya di drama itu dia meninggal karena kematian itu takdir, men, nggak bisa dinegosiasi.

Kembali ke Park Soo Ha dan antek-anteknya.

Pemikiran saya sederhana sih. Pertama, saya memposisikan diri menjadi Park Soo Ha terlebih dahulu. Di sini yang saya soroti adalah kekuatan mind-reader-nya. Saya jadi ngebayangin, kalo saya dianugerahi kemampuan semacam itu, apa yang akan terjadi? Kalo orang sembrono kayak saya emang nggak mungkin sih dikasih kayak gituan hahaha. Tapi berimajinasi dikit kan nggak apa-apa sih.

Berikut ini hal-hal yang mungkin terjadi jika saya memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain seperti Park Soo Ha.

  • Kegiatan yang paling mungkin saya lakukan adalah nongrong di tempat rame sambil menatap mata orang-orang lewat secara random dan membaca pikiran mereka. Simple, huh? Penasaran aja sama isi kepala orang lain. Tapi sepertinya setelah ini saya akan menjadi orang paling kurang kerjaan sedunia. Kemungkinan terburuk adalah saya dicurigai sebagai pembunuh bayaran yang sedang mengincar mangsa.
  • Jalan-jalan di lingkungan sekitar dan sok akrab menyapa orang-orang untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang saya. Ding dong! Keki nggak sih kalo misalnya denger langsung apa yang orang-orang pikirkan tentang diri kita dari hati yang terdalam? Berani taruhan, pasti buanyaaaaakkk banget hal yang membuat saya introspeksi diri. Bagus sih kalo buat bahan perbaikan, tapi setelah saya renungkan lagi, hal seperti itu lama-lama nggak bagus untuk kesehatan. Masa tiap hari mikirin pendapat orang lain mulu. Kalo sifatnya cuek dan masa bodo sih nggak masalah, setidaknya otak bisa menyaring mana yang pantes dimasukin ke hati dan mana yang enggak. Tapi kalo orangnya sensitif kayak saya? Tamatlah riwayat, hahaha. Justru superpower itu malah menjadi  bumerang dan hambatan untuk menjadi diri sendiri.
  • Membaca pikiran dosen. Sebenernya Park Soo Ha juga pake trik ini, makanya dia bisa “lebih” dari temen-temennya. Maksudnya pinter gitu. Jadi ketika guru di kelas sedang menjelaskan pelajaran, Soo Ha menatap mata beliau dan otomatis ilmu yang ada di otak guru itu nyalur duluan ke kepala Soo Ha. Brilian, kan?

Di poin ini saya kurang lebih akan melakukan hal yang sama. Saya kan suka nggak nyambungan gitu orangnya hahaha. Susah nyentel kalo dijelasin dosen. Jadi alangkah bagusnya kalo bisa tahu isi kepala dosen dan menimba ilmu dari sana. Tapi ya nggak ngerti kalo misalnya beliau memikirkan hal lain yang nggak sengaja terbaca oleh saya (-___-). Oh iya, sekalian memperkirakan nilai apa yang akan saya dapatkan dari dosen tersebut hahaha (maunya).

  • Nah, ini nih yang pengen banget saya lakukan. Saya pengen mengetahui pikiran cowok-cowok yang sering nongkrong di pinggir jalan dan hobi ‘suit-suit’-in orang lewat. Sumpah nggak ngerti mereka tuh maunya apa. Apakah hanya sekadar lucu-lucuan atau memang ada maksud lain yang terselubung? Maksudnya kalo mereka punya pikiran yadong kan saya langsung tahu gitu hahaha. Padahal setelah itu langsung ilfeel.
  • Ini mungkin terlalu muluk, tapi saya pengen dateng ke fanmeeting atau nonton konser idol favorit saya dan berdiri di barisan paling depan, pokoknya yang paling deket dengan panggung (kayak lo banyak duit aja Din). Tentu saja tujuannya adalah agar saya bisa menatap mata Oppars/Unnirs dengan leluasa dan menikmati setiap suara yang berasal dari kepala mereka dengan penuh penghayatan. Saya bisa langsung tahu apa yang dipikirkan para idol pada saat itu, apakah mereka bener-bener enjoying the concert atau justru pikirannya mengembara pada hal lain?

Tunggu, emangnya lo ngerti bahasa Korea, Din?

Emang gue pikirin.

Kali ini kita hilangkan dulu perkara bahasa dan tetekbengeknya. Anggap saja kendala bahasa ini dapat dengan mudah teratasi. Maksa dikit nggak apa-apa (yakali menurut lo). Ntar saya sama idol saya pakenya bahasa kalbu kok biar komunikasinya syahdu (eaaa).

Kembali ke topik.

Di sini juga ada harapan bahwa kehidupan percintaan mereka akan terekspos. Hahaha sukurin! Kenapa saya bisa bilang seperti itu? Karena menurut pemikiran saya yang absurd ini, di tempat seramai apapun dan di suasana semenyenangkan apapun, seseorang akan selalu sempat mengingat orang-orang tercintanya sedikitnya satu kali atau satu orang. Seru banget kan kalo salah satu Oppa tiba-tiba keinget kekasihnya (aseeek). Tapi tenang saja, saya bukan orang yang doyan ngegosip kok hahaha (ini bohong banget).

Terlepas dari kuatnya kemungkinan bagi saya untuk mengetahui siapa saja yang kurang menyukai atau bahkan sangat menyukai saya (apa sih), saya sangat was-was jika kemampuan itu benar-benar saya miliki. Dengan keadaan saya yang setengah labil setengah tidak, sangat mungkin jika saya membocorkan segala isi pikiran aneh orang lain. Misalnya ketika saya ketemu temen di jalan trus langsung nyeletuk, “Oh, lo mau beli pembalut bersayap dengan panjang 69 cm di toko sebelah?” atau “Ciyeee yang kebelet pup. Buruan gih, ntar kececer semua loh.” Kebayang nggak sih gimana syoknya temen saya itu ketika rahasia besarnya diekspos ke permukaan? Lama-kelamaan berita tentang kekuatan mind-reader saya menyebar ke seluruh penjuru dunia dan orang-orang yang ketemu saya akan menghindar atau setidaknya memakai kacamata hitam. Saya akan kesepian dan merasa nggak punya temen lagi. Serem, kan?

Nah, yang kedua, saya memposisikan diri sebagai Jang Hye Seong. Poin ini akan saya arahkan pada hal yang sederhana, nggak perlu bawa-bawa pekerjaan dia sebagai public defender dan segala kasus rumit di dalamnya. Saya hanya menyoroti sosok Jang Hye Seong sebagai seorang wanita yang dekat dengan pria berkekuatan super, yaitu Park Soo Ha. Bisa bayangin kan gimana ribetnya hidup Hye Seong setiap kali Soo Ha menatap matanya dan saat itu juga langsung mengetahui pikirannya? Makanya dia sering keki ketika perasaannya terhadap Soo Ha terekspos dengan gamblangnya tanpa bisa dikontrol. Bagi wanita yang penuh gengsi seperti Hye Seong hal itu sangatlah mengganggu, oleh sebab itu ada momen-momen di mana dia berusaha menghindari kontak mata dengan Soo Ha.

Jika saya adalah Jang Hye Seong dan Jang Hye Seong adalah saya, beuuuh saya udah bisa bayangin betapa ilfeel-nya Park Soo Ha terhadap saya. Segala macam pikiran aneh yang bersarang di otak saya, termasuk imajinasi-imajinasi liar yang selama ini tersimpan rapi, akan ditelanjangi bulat-bulat oleh mata super milik Soo Ha. Saya bisa gila! Kalo tiba-tiba pikiran saya yadong, lalu Soo Ha juga otaknya sedang yadong, maka saya tidak berani membayangkan siapa yang akan meyadongi duluan (ini apa). Ah, rupanya saya mulai ngelantur. Mari kita lewati saja, hahaha (gampar diri sendiri).

Tapi sisi positifnya mungkin saya akan lebih bisa mengatur pikiran saya sendiri kali ya. Mengontrol isi kepala agar nggak kebablasan. Tapi pikiran sendiri nggak bisa dibohongin, cuy! Otak kita tuh polos dan apa adanya banget. Apa yang kita pikirkan sama dengan apa yang apa yang kita lihat. Se-absurd apapun pikiran itu, kita tetep nggak bisa membohongi diri kita sendiri. Mamam tuh kalo punya temen macam Park Soo Ha! Hahaha~ (ngakak nista)

Intinya bersyukur aja udah dikasih hidup sebagai manusia yang nggak ribet gini. Walaupun di luar sana banyak yang palsu-palsu, kita tetep bisa kok menemukan yang asli dan bener-bener tulus. Gunakan hatimu, Nak! Jangan biarkan hatimu ikut-ikutan membohongimu. Jagalah hati, jangan kau nodai~ (kemudian berdendang)

Sekian.

– Syupeodinie –

Advertisements

3 thoughts on “I (Don’t) Hear Your Voice

  1. Aku juga udah nntn drama i hear your voice. Dan kadang bayangin juga kalo punya amazing power kaya park sooha bakal gimana hehe..
    Tapi dipikir2 kalo dengerin suara hati orang yang nggak seharusnya didengerin nggak baik juga buat kesehatan (?), well, everyone deserves to have a secret for their own self 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s