We Are Fangirl and Here is Our Story…

Mengagumi sosok entertainer memang terlihat mudah. Orang-orang berpikir bahwa menjadi seorang fangirl atau fanboy adalah “pekerjaan” yang sederhana, tidak rumit dan sekedar hobi yang biasa.

Beberapa tahun bergelut di dunia fangirl membuat pernyataan di atas sangat melenceng dengan kenyataan sebenarnya. Ternyata menjadi seorang fangirl tidak sesederhana itu, dalam hal ini khususnya fangirl K-pop. Tidak hanya bermodalkan majalah, video, atau foto-foto tentang idol. Modal yang jauh lebih penting bagi seorang fangirl adalah mental.

Perkenankanlah saya menyebut fangirl dengan sebutan “kami”, untuk menyiratkan bahwa apa yang dialami dan dirasakan oleh sebagian fangirl juga dialami oleh fangirl lainnya.

Saat itu kami tidak tau apa yang harus dilakukan untuk mengisi waktu senggang kami. Kami sudah sangat sering membaca komik atau novel. Membaca buku pelajaran, tentu sangat membosankan. Ingin menonton film tetapi sepertinya semua stok film sudah kami tonton. Cerita berganti saat kami memutuskan untuk menjadi fangirl. Kami tidak perlu bingung tentang apa yang harus dilakukan saat sedang bosan. Kami hanya perlu mencari berita tentang idol kami, menonton video idol kami, atau sekedar bercakap-cakap dengan fangirl lainnya.

Sungguh kegiatan yang sangat biasa, bukan? Bahkan cenderung membosankan.

Hey, tapi kami adalah fangirl, orang yang tidak pernah bosan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan idol kami. Hal-hal yang menurut kalian biasa, itu adalah yang paling menyenangkan bagi kami.

Di saat anak seusia kami sedang menikmati masa remajanya dengan cara pada umunya -pergi berjalan-jalan dengan teman atau pacar, mengunjungi berbagai pusat perbelanjaan dan memburu baju, sepatu, tas serta pernak-pernik lainnya-, kami sedikit berbeda. Kami juga suka berjalan-jalan, tetapi kami lebih suka berdiam diri di depan komputer dan menatap wajah idol kami. Kami suka mengunjungi pusat perbelanjaan, tetapi hal yang kami beli berbeda dengan anak-anak lain. Kami mencari benda-benda yang berhubungan dengan idol kami. Bahkan kami menjerit histeris ketika melihat gambar atau banner idol kami yang diletakkan di toko atau mall *pengalaman pribadi -_-*. Kami memburu kaset drama atau show yang menampilkan idol kami di dalamnya. Saat situasinya seperti itu, kami sudah tidak peduli lagi pada benda-benda dan aksesoris yang digemari para remaja. Kami memuaskan diri dengan hanya membeli benda yang dapat mendukung kegiatan fangirling kami. Bahkan ketika remaja lainnya rela berdesakan untuk mendapatkan barang-barang diskon, kami lebih rela berdesakan untuk mendapatkan tiket konser idol kami.

Di saat anak seusia kami sedang rentan terhadap penyakit “galau”, kami pun demikian. Anak-anak lain akan berkutat dengan dunia remajanya, di mana mereka dipusingkan dengan kisah percintaan yang tiada akhir(?), teman laki-laki mereka yang sering membuat mereka gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak sampai akhirnya mereka menangis semalaman. Kami –fangirl– juga sama. Kami merasakan sedih hingga tidak bisa tidur ketika mendengar berita buruk tentang idol kami. Kami terus meng-update berita untuk memastikan idol kami baik-baik saja. Kami bisa saja menangis semalaman ketika mengetahui grup favorit kami mengalami masalah. Kami seperti sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan idol kami ketika ia harus menjalani wajib militer, padahal dalam keseharian pun kami sudah jauh dari mereka, hahaha~ Kami setia menunggu dua tahun lamanya untuk menyambut idol kami kembali dari wajib militernya sebagai sosok yang baru.

Kami merasa sedih bahkan menangis semalaman ketika idol kami datang ke negara kami tetapi kami tidak dapat menyambutnya. Kesedihan semacam itu hanya kami yang paham. Ketika kami tidak bisa berada dalam satu lokasi dengan fangirl lain untuk melambaikan lightstick dan meneriakkan nama idol kami di area konser, ketika kami begitu ingin “tenggelam” dalam “lautan” penggemar dan melakukan fanchant. Ketika kami tidak bisa berada dalam situasi tersebut karena suatu hal, kami hanya dapat menahan kekecewaan pada diri sendiri dan kecemburuan pada fangirl lain. Kami bahkan merasa hal tersebut lebih menyedihkan daripada sekedar putus cinta. Hahaha~ ya, itulah kami.

Menjadi fangirl K-Pop membuat kami dituntut untuk memahami bahasa dan budaya lain. Sedikit demi sedikit kami mempelajarinya. Tentu, itu hanya untuk selingan karena kami tak mungkin melupakan budaya kami sendiri. Tapi berkat menjadi fangirl kami jadi tau sedikit-sedikit tentang bahasa dan budaya dari negara idol kami. Itu menguntungkan bukan, setidaknya berguna untuk pelajaran ilmu sosial, kekeke~ Mempelajari hal-hal semacam itu seperti menjadi pelengkap di sela-sela kegiatan fangirling kami. Kami mendengarkan lagu berbahasa Korea dan membaca terjemahannya, kami menonton drama Korea dan memperhatikan pengucapan kosakatanya, bukankah itu juga termasuk proses belajar? Kami belajar membuat cerita-cerita khayalan tentang idol kami, itu juga termasuk pelajaran, bukan? ^^

Seperti yang telah kami rasakan, menjadi fangirl memang terlihat sederhana, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Masalah klasik yang membuat kami muak adalah antifans. Ya, orang-orang yang merasa kurang berkenan dengan idol kami, dan pada akhirnya mereka menyalahkan kami atas ketertarikan kami pada idol kami. Kami sudah cukup kenyang dengan ucapan-ucapan orang-orang di sekitar kami yang membuat kami seolah-olah menjadi tersangka atas suatu tindak kejahatan, Hey, kami hanya mengagumi idol. Kami menunjukkan dukungan terhadap orang yang kami sukai, bukankah itu wajar? Lihatlah orang-orang di luar sana. Bukankah banyak anak lelaki yang mengidolakan suatu klub sepak bola sampai rela tidak tidur untuk menonton pertandingan bola di televisi? Bahkan mereka juga ingin menyaksikannya langsung di stadion, kan? Tidak jarang juga mereka mengidolakan sebuah grup band rock atau yang lainnya dan selalu mendengarkan lagu mereka, serta membicarakan para idol mereka di jejaring sosial. Lalu bagaimana dengan para remaja yang mengidolakan selebriti barat -para bule- itu? Bukankah mereka juga sama saja seperti kami? Apa bedanya? Yang membedakan hanya idolnya, kan? Lalu mengapa banyak yang mengecam kami? Apakah para “pemberontak” itu tidak mempunyai idola?

Tidak jarang para antifans itu menyalahkan kami. Mereka menganggap kami tidak mencintai negara kami. Hey, tau dari mana kalian? Apa sih yang telah kalian lakukan bagi negara sampai-sampai kalian berani mengecam kami? Apakah definisi ‘tidak cinta tanah air’ telah bergeser? Apakah kalian meminta kami menggemari selebriti dalam negeri yang sehari-hari hanya menebar sensasi? Apakah kami juga harus menyukai para “copycat” yang bertebaran di negara kami? Kami hanya ingin menyukai sesuatu yang original, apakah salah?

Ah iya~ tidak jarang juga seseorang mengatasnamakan agama untuk menentang kami. Kami tau niat kalian baik. Terima kasih. Tapi bagi kami fangirling itu hobi, bukan suatu ritual ibadah! Lalu bagaimana dengan para fans selebriti lokal (you know who) yang menjadikan idolnya sebagai Tuhan? Kalian tidak menyalahkan mereka dengan dalih bahwa mereka mencintai “produk” dari negara sendiri? Jangan konyol! Kami juga mengerti batasan kekaguman kami terhadap idol kami. Lagipula apakah kegemaran kami mengganggu ketenangan hidup kalian? Kami rasa tidak. Lalu untuk apa kalian repot-repot mengurusi hobi dan hidup kami, padahal orang tua kami saja membiarkan kami melakukan apa yang kami suka selama itu positif. Bukankah kita diajarkan pelajaran budi pekerti ketika di Sekolah Dasar, di mana kita harus saling menghargai dan memiliki toleransi terhadap orang lain. Saya rasa kita semua sudah cukup dewasa untuk memahaminya ^^

Kehidupan di dunia fangirl memang rumit. Seperti inilah kami dan kehidupan fangirling kami. Ternyata kehidupan fangirl lumayan kompleks, bukan? Kekeke~ ^^

Tulisan ini dibuat hanya untuk melihat sisi lain dari seorang fangirl, sisi yang selama ini kadang dipandang sebelah mata oleh orang lain. Seharusnya kita tidak melihat sesuatu dari satu sisi saja, bukan? ^^

Maaf jika kata-kata saya kurang berkenan. Lagi-lagi saya hanya mencurahkan isi hati dan didukung dengan beberapa pengamatan(?). Saya mengetik tulisan ini dengan berapi-api dan penuh semangat seakan telah memendam hal ini sejak lama, hahaha ^^ No bashing ya~ Ingat, saling menghargai itu perlu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ^^ *bow*

Syupeodinie

Advertisements

6 thoughts on “We Are Fangirl and Here is Our Story…

  1. Bahahaha yang satu itu eonn yang bikin ngakak. Kisah percintaan yang tiada akhir. Pffft beneran HAHAHA setuju banget sama ini postinga eonn *o*/ keep writing eonn. Dari dulu aku suka sama tulisan eonni, yang hobby banget cerita di facebook dan bikin notes. Dan aku kangen sama FF eonni. Bikin FF lagi dong eonn HAHAHA *ditendang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s