Dear Mom… My Most Precious Treasure~

“I’m feeling tired today 

Left alone in the room hugging a pillow 

Touching my phone distracted my mind 

It’s lonely to eat tonight

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku, tentu saja, merasa asing. Bagaimana tidak~ saat itu kau mengantarku, membantuku mengatur barang-barang yang kau persiapkan semalam sebelumnya.

Aku sangat asing dengan pemandangan ini.

Berada di tempat baru, bertemu orang-orang baru, mendapatkan ilmu dan pengalaman baru.

Tapi tetap saja tempat ini asing dan menakutkan karena aku di sini TANPAMU.

Sebagus dan semewah apapun tempat yang kupijak saat ini, aku tetap merasa ketakutan karena kau tidak di sini bersamaku.

Aku yang manja ini tiba-tiba dihadapkan pada satu sisi kehidupan di mana aku diharuskan melewatinya seorang diri tanpa kau di sampingku.

Melihat masa lalu memang indah, ketika aku masih kanak-kanak dan tak banyak hal yang harus kupikirkan. Yang aku tau hanya bahwa kau selalu ada di sisiku dan menyelesaikan segala masalahku.

Ketika aku mengeluh lapar, aku hanya perlu merengek padamu dan kaupun dengan cepat membelikan atau bahkan memasakannya untukku.

Ketika aku merasa letih, kau hanya mengelus kepalaku dan menyuruhku istirahat.

Ketika aku mengeluh tentang tugas-tugasku, kau hanya tersenyum dan memberiku motivasi untuk menyelesaikannya.

Ketika aku sakit, hanya kau yang sepenuh hati merawatku, bahkan hingga kau melupakan jam tidurmu.

Ketika aku terjaga hingga larut malam, kau menegurku dan berkata bahwa itu tidak baik untuk kesehatan.

Ketika tiba waktunya beribadah dan aku masih terlelap, kau dengan sabar membangunkanku.

Tapi sekarang aku jarang sekali merasakan momen-momen membahagiakan itu. Di sini aku hanya seorang diri. Tak ada yang memasakkanku ketika aku mengeluh lapar, tidak ada yang menegurku ketika aku masih menatap layar hingga larut malam. Sekarang aku harus berusaha bangun tepat waktu agar tidak meninggalkan kewajibanku beribadah. Aku tak bisa mengeluh padamu ketika aku kesulitan dengan tugas-tugasku. Aku tak bisa seketika lari ke pelukanmu ketika aku merasa dunia kejam terhadapku. Bahkan aku harus menguatkan diriku sendiri ketika aku sakit.

Huh… tanpamu aku memang bukan apa-apa.

“Suddenly, i was frightened by the ringing phone 

My mom’s worried voice asked if i’ve eaten 

These words annoyed me but today it’s different 

The forgotten promises are remembered 

Dulu ketika kau memanggil namaku, memintaku untuk segera makan, aku hanya mendengus sebal, seolah kau menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang berat. Ketika kau memintaku untuk segera melaksanakan kewajibanku, itu merupakan hal yang kuanggap menyebalkan. Aku menggertutu ketika aku merasa kau mengusikku, atau terlalu ikut campur dalam kehidupanku.

Hal-hal yang dulu sangat menyebalkan bagiku, ternyata menjadi hal yang paling kurindukan saat ini.

Aku ingin kau memperhatikanku, sekadar mengingatkanku untuk makan.

Aku ingin kau menanyakan hal-hal kecil yang terjadi padaku sepanjang hari.

Aku ingin kau memintaku bercerita tentang masalah yang kualami di luar rumah.

Aku merindukan semua itu!

Perhatian sekecil apapun yang kau berikan padaku, itu adalah harta. Penyesalan itu pasti ada~ mengapa dulu aku tak mengindahkan setiap nasihatmu? Mengapa dulu aku sering mengabaikanmu ketika kau memanggiku untuk melakukan sesuatu? Mengapa aku tidak bisa menghargai perhatian yang kau berikan?

Sekarang hal itu menjadi cambuk bagiku.

Mungkin jika aku terus tinggal bersamamu, aku tidak akan sadar secepat ini. Mungkin aku masih menjadi anak manja yang menggantungkan segalanya padamu.

Eomma, mianhada ^^

“I will be a person with pretty heart 

And become a person who is selfless 

I’ll keep the love of my mother’s wishes 

I think of mother who used to share my dreams and brush my hair

 

Sekarang semuanya sudah berbeda. Tak semestinya aku menimpakan semuanya padamu. Sudah bukan dalam lingkup usiaku untuk meratap dan menangis di pelukanmu ketika aku jenuh dengan kehidupan. Sudah saatnya aku belajar melangkah sendiri tanpa harus berpegangan padamu.

Seperti yang pernah kau katakan padaku, aku tak mungkin terus berada pada satu tempat.

Ya, aku harus mencari keberuntunganku sendiri. Ketika Tuhan memutuskan untuk mengirimku ke suatu tempat, aku yakin Dia tidak akan menjerumuskanku. Aku tau kau pun demikian, Mom~ kau tidak akan membawaku pada tempat yang salah. Aku tau keinginan yang kau timpakan padaku. Aku adalah harapanmu, benar kan? Ketika kau berharap begitu besar padaku, apakah aku akan tega menghancurkan harapan itu?

Ketika aku memutuskan untuk menjaga harapanmu, saat itu pula aku mengemban amanat yang begitu besar.

“Though I’ve made hurtful wrong choices 

You silently watched over me from behind 

But now I think more than an innocent child 

The meaning of mom’s silent prayers

Kau pasti lelah ya, selama ini aku selalu menggantungkan semuanya padamu?

Kau juga manusia. Selalu ada titik jenuh, terlebih ketika aku menjadi pembangkang dan tak menuruti perkataanmu.

Kesabaran adalah kesabaran. Itu senjatamu yang paling ampuh.

Kau mampu menangani pribadi sepertiku, aku salut. Itulah mengapa kukatakan Tuhan tidak pernah mengirimku ke tempat yang salah, atau ke tangan yang salah.

Aku terlalu polos untuk memiliki pemikiran semacam itu. Mungkin itulah sebabnya aku baru mengerti artimu bagiku.

Dan sekarang aku ingin berpikir lebih jauh lagi, berpikir tentang harapan-harapan itu… Tapi kurasa terlalu berat.

Di saat seperti itu aku hanya berbisik ‘Mom, I need you…’

What will i do, yet my heart is small 

Can I do better without holding mother’s hand?”

Aku sudah dewasa, benar kan?

Aku terus mengukuhkan kalimat itu, terus dan terus sampai kadang aku bertanya-tanya, sedewasa apa sih aku ini?

Kenapa aku belum merasa menjadi orang dewasa?

Kenapa aku seringkali merasa hatiku masih ringkih dan belum kuat menahan dentuman-dentuman itu sendirian?

Ya, memang sudah saatnya aku menjadi dewasa.

Berhenti bergantung padamu, berhenti merepotkanmu dengan ulahku yang kekanak-kanakan.

Tapi bagaimana jika aku sulit menghentikannya?

Bagaimana jika aku terus merasa kau menuntunku, padahal itu hanya ilusi? Apakah aku harus mengikuti ilusi itu kemanapun dia membawaku?

Bagaimana caraku membuktikan bahwa aku baik-baik saja tanpa tanganmu yang senantiasa menjadi peta hidupku?

Ah… hentikan. Sekarang ini melihat wajahmu saja sudah membuatku bersemangat. Itu lebih dari cukup untuk membimbingku ke arah yang kita inginkan ^^

“I’m afraid that it will still lack

I’ll be a wise daughter of my mom

I will be a proud daughter no matter where I go

I’ll keep the love of my mother’s wishes

I’ll show endless love

I’ll have a warm heart

I’m shy to express to mom

That I really love my mom

Sejujurnya aku ingin selalu berada di sampingmu, agar ketika aku membutuhkanmu aku dapat langsung menemukanmu tanpa harus menangis dan menunggu. Dan AKU BENCI MENUNGGU. Apalagi ketika aku harus menunggu untuk bertemu denganmu. Itu menyebalkan! Aku membutuhkanmu sekarang, dan aku harus menunggu hanya untuk melampiaskan perasaan rindu yang berkecamuk. Bukankah itu menyakitkan?

Kau tahu, betapa aku sering merindukan kelezatan yang kau ciptakan dari tanganmu? Sekarang lidahku begitu jarang merasakannya. Di sini aku tak bisa merasakannya.

Aku rindu ketika kau mengomel karena aku menghabiskan uang hanya untuk membeli majalah, atau membeli benda-benda yang berbau Korea~ kekeke… aku geli ketika mengingatnya ^^

Sekarang aku mudah teringat padamu, mudah merasakan rindu yang amat menyiksa. Perasaan ini muncul karena aku tak bisa melihatmu sesering yang kumau. Sesering aku mengingatmu, sesering itu pula dadaku sesak.

Tak jarang aku iri dengan anak lain yang setiap saat bisa pulang ke rumah dan melihat ibunya. Aku iri dengan keseharian mereka yang menyenangkan karena terus bersama ibunya. Mereka bisa merasakan masakan ibunya setiap hari, bisa merasakan belaian ibunya setiap hari, bisa mengeluh pada ibunya ketika sakit atau terjadi masalah.

Aku iri.

Tapi tetap ada yang patut disyukuri. Harusnya aku bersyukur karena masih memilikimu. Aku masih memiliki orang yang bisa kupanggil ‘ibu’. Memiliki ibu sepertimu yang tidak dimiliki oleh anak lain. Aku sangat beruntung masih bisa melihatmu walaupun tidak setiap hari. Aku masih beruntung bisa mendengarkan suaramu walaupun hanya lewat telepon. Kau masih mengingatkanku untuk makan dengan teratur dan menjaga kesehatan. Kau masih memperhatikanku bahkan ketika aku tinggal jauh darimu. Kau masih sering menanyakan kapan aku pulang. Kau masih sering mencium pipiku ketika aku akan kembali ke duniaku yang kejam, mengingatkanku untuk berhati-hati dan tak putus berdoa.

Dear Mom…

고마워요, 정말 고마워요~

엄마 정말로 사랑해요… ♥

With love,

Your Daughter~ ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s